Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Populasi Pesut Mahakam Kian Menipis, Tinggal Puluhan Ekor di Sungai Mahakam, Ternyata Gara-Gara Ini Penyebabnya

Eko Pralistio • Kamis, 9 Oktober 2025 | 10:39 WIB
MENYUSUT: Populasi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), mamalia air tawar endemik Kaltim kondisi jumlahnya makin memprihatinkan.
MENYUSUT: Populasi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), mamalia air tawar endemik Kaltim kondisi jumlahnya makin memprihatinkan.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Populasi pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), mamalia air tawar endemik Kaltim jumlahnya semakin memprihatinkan.

Data Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) mencatat, tren penurunan yang terus terjadi sejak pemantauan pertama pada 2004 silam.

Direktur Yayasan RASI Danielle Krab mengatakan, pemantauan dilakukan lewat metode foto identifikasi sirip punggung. Setiap pesut dikenali dari bentuk dan luka unik di siripnya, sehingga para peneliti bisa melacak individu yang sama dari tahun ke tahun.

“Dulu masih banyak pesut yang muncul di perairan Mahakam. Sekarang tinggal puluhan ekor saja. Padahal di awal penelitian, frekuensinya jauh lebih tinggi,” ujar Danielle. Jumlah pesut Mahakam mulai turun drastis sejak 2014. Dari semula sekitar 80 ekor, kini hanya tersisa sekitar 60 ekor.

Masalah tak berhenti di jumlah yang menurun. Pesut Mahakam juga punya tingkat reproduksi rendah. Seekor induk hanya bisa melahirkan satu anak dalam tiga tahun. Parahnya, tingkat kelangsungan hidup anak pesut juga rendah. “Banyak yang mati muda karena terjerat jaring nelayan atau kondisi lingkungan yang makin rusak,” jelas Danielle.

Pesut, kata Danielle, bukan seperti ikan yang bisa bertelur ratusan. Mereka mamalia yang butuh waktu lama untuk dewasa dan sangat bergantung pada lingkungan. “Begitu populasinya kecil, risiko punah makin besar,” ujarnya.

Yayasan RASI mencatat, empat ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup pesut Mahakam. Pertama jaring insang nelayan. Itu penyebab utama kematian pesut. Saat terjerat, mereka sulit melepaskan diri dan akhirnya mati lemas.

Kedua, tabrakan kapal. Lalu lintas ponton batu bara, kapal bermesin, dan speedboat di Sungai Mahakam semakin padat. Tubuh pesut sering terluka akibat baling-baling.

Ketiga, racun dan setrum ikan. Praktik ilegal itu masih ditemukan di sejumlah titik dan merusak ekosistem makanan pesut. Dan polusi air. Seperti Limbah industri, domestik, hingga mikroplastik mencemari Mahakam. Penelitian RASI menemukan jejak mikroplastik di tubuh ikan yang jadi santapan utama pesut.

Selain itu, kebisingan dari lalu lintas kapal juga jadi masalah. “Pesut menggunakan sonar untuk mencari makan dan berkomunikasi. Kalau terganggu, mereka bisa kehilangan orientasi dan stres,” tambah Danielle. Pihaknya menyebut, tanpa intervensi nyata, pesut Mahakam bisa bernasib sama seperti baiji, lumba-lumba air tawar Sungai Yangtze, Tiongkok, yang dinyatakan punah pada 2006.

 

“Baiji jadi contoh nyata spesies yang hilang dalam waktu singkat. Itu peringatan keras bagi kita,” katanya. Kini, pesut Mahakam masuk kategori Critically Endangered atau kritis dalam daftar merah IUCN, artinya spesies itu terancam punah di alam liar.

Pesut Mahakam hanya hidup di beberapa segmen sungai tertentu, terutama di Kabupaten Kutai Kartanegara. Habitatnya makin terdesak akibat aktivitas manusia, mulai pertambangan, lalu lintas kapal, hingga pembangunan permukiman di bantaran sungai.

“Habitat pesut makin sempit. Mereka tidak bisa berpindah ke sungai lain. Kalau Mahakam rusak, hilang sudah pesut dari Kalimantan,” ucap Danielle.

Kasus pesut Mahakam kini jadi sorotan internasional. Beberapa lembaga konservasi dunia menjadikannya barometer keberhasilan Indonesia menjaga biodiversitas perairan tawar.

Danielle berharap perhatian dunia itu diikuti dengan tindakan nyata dari pemerintah. “Kami tidak bisa hanya bangga karena pesut Mahakam dikenal di dunia. Yang penting adalah aksi nyata untuk menyelamatkan mereka,” tegasnya.

Yayasan RASI mendorong pembatasan jalur ponton batu bara di habitat pesut, penegakan hukum terhadap penggunaan racun dan setrum ikan, serta pengawasan kualitas air sungai. Selain itu, distribusi alat tangkap ramah lingkungan bagi nelayan dianggap mendesak.

“Kami sudah tahu apa ancamannya. Sekarang waktunya mengurangi risikonya. Kalau terus dibiarkan, generasi kita nanti mungkin cuma bisa melihat pesut Mahakam lewat foto,” pungkas Danielle. (*)

Editor : Dwi Restu A
#populasi #sungai mahakam #pesut mahakam #menyusut