Pelaksana Tugas Camat Mlati, Arifin, mengatakan ada 214 siswa yang tercatat mengalami gejala serupa, mulai dari pusing hingga diare. Mereka berasal dari MAN 3 Sleman, SMPN 2 Mlati, dan SD Jombor Lor.
“Sebagian besar hanya dirawat jalan. Ada satu siswa yang sempat diinfus, tapi tidak sampai dirujuk,” ujar Arifin di Puskesmas Mlati I, Jumat, 24 Oktober 2025.
Para siswa MAN 3 dan SMPN 2 Mlati diketahui menyantap menu MBG pada Kamis, 23 Oktober 2025, sedangkan siswa SD Jombor Lor memakan hidangan serupa hingga Jumat pagi.
Arifin menyebut menu yang disajikan sehari sebelumnya terdiri dari opor ayam, tahu, dan acar.
“Sampel makanan sudah dibawa untuk diuji, tapi hasilnya belum keluar,” katanya.
Kepala Puskesmas Mlati I, Isa Listiyani, membenarkan seluruh siswa yang datang ke fasilitas kesehatan menjalani perawatan ringan. “Kebanyakan kondisinya membaik, hanya satu anak yang kami rujuk ke Rumah Sakit Akademik UGM karena masih lemas,” tutur Isa.
Pihak sekolah, penyedia jasa penyelenggara pangan (SPPG), serta aparat kecamatan kini tengah menelusuri sumber penyebab keracunan massal tersebut.
Kasus di Sleman menambah panjang daftar insiden serupa dalam program MBG di berbagai daerah. Sebelumnya, puluhan anak di Mamuju, Sulawesi Barat, dan Seram Barat, Maluku, juga dilaporkan mengalami keracunan usai menerima paket makan bergizi.
Editor : Uways Alqadrie