Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

LAPORAN KHUSUS: PHM Bangun Sekolah Terapung di Delta Mahakam, Anak-Anak Sepatin Kini Belajar dengan Teknologi Modern

Dwi Restu Amrullah • Minggu, 26 Oktober 2025 | 05:05 WIB
PHM memiliki andil dalam kemajuan SMP 6 Sepatin, Kukar. (FOTO RESTU/KALTIM POST)
PHM memiliki andil dalam kemajuan SMP 6 Sepatin, Kukar. (FOTO RESTU/KALTIM POST)

KALTIMPOST.ID-Speedboat berukuran sedang dengan kapasitas delapan penumpang membawa saya menjauh dari Dermaga Sungai Meriam, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar), Selasa (14/10) tepat pukul 08.20 Wita.

Kapal bermesin 200 horsepower (HP) itu harus bermanuver beberapa kali. Bahkan motoris mesti menarik tuas rem untuk melambat agar tak sampai membuat gelombang. Karena gelombang cukup berbahaya bagi perahu-perahu kecil yang juga hilir-mudik di Sungai Mahakam.

Maklum, tak ada akses darat ke Desa Sepatin. Dari Dermaga Sungai Meriam ke Desa Sepatin, jaraknya sekitar 70 kilometer. Hanya bisa ditempuh melalui jalur air. 

Setelah perjalanan selama hampir 90 menit menyusuri sungai, mengarah ke Delta Mahakam, air yang semula cokelat perlahan kehijauan. Akhirnya, kapal cepat yang saya tumpangi menepi di dermaga Desa Sepatin.

Tepat di depan kantor desa. Mata saya tertuju ke bangunan rumah-rumah dari kayu yang terbelah anak Sungai Mahakam saling berhadapan. Dibuat sedikit lebih tinggi dari daratan.

Beberapa orang sudah berdiri di atas dermaga. Melempar senyum tipis memesona. “Selamat datang. Begini kondisinya di sini (Desa Sepatin),” ucap Tandarman sembari bergurau.

Dia juga sebagai kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) 6 Anggana. Senyumnya bertambah haru saat bertemu beberapa perwakilan Pertamina Hulu Mahakam (PHM).

Tandarman lantas mengajak saya ke gedung sekolah. Melewati jalan selebar 2 meter kukuh dari ulin. Yang kadang berderit kala anak-anak berlarian di atasnya.

“Itu kalau mengikuti jalan berbelok-belok. Kalau pembangunan jalan ada keterlibatan PHM juga. Panjangnya sekitar 7 kilometer," ujarnya. Jalanan yang ternyata juga menjadi penyemangat anak-anak ke sekolah.

Dulu, anak-anak ke sekolah harus menggunakan kapal. Karena jalanan belum tersambung. Sehingga harus berputar sedikit lebih jauh.

“Alhamdulillah, sekarang setiap pagi kalau ke sekolah semangat, enggak perlu naik perahu lagi,” ungkapnya. “Mari belok sini, kita ke sana,” ucapnya mengarahkan.

Dari ujung jalan terpampang tulisan Welcome to SMP 6 Anggana. Penyambutan sederhana tapi penuh makna lewat tari jepen, dibawakan anak-anak setempat.

Lenggak-lenggoknya, ayunan tangannya yang khas, dengan sesekali melempar senyum lepas.

SMP 6 begitu sederhana. Bukan sekolah yang berdiri gagah layaknya di kota. Seluruh bangunan materialnya kayu. Dominan ulin untuk tiang penyangga.

Sekolah itu juga dibangun sedikit lebih tinggi dari daratan, berkolong di bawahnya. Tahun ini, siswanya hanya 54 orang. Itu sudah mencakup kelas VII hingga IX.

Tandarman berucap, sejak 2019, mereka menempati sekolah dengan luas 10.500 meter persegi itu.

“Dulunya kami satu bangunan dengan SD 016 Anggana. Tapi SMP sudah ada sejak 2011,” imbuhnya.

Sebelumnya jumlah guru juga hanya empat orang. Karena tak ada yang tahan. Selain karena jaringan seluler susah, tempat tinggal terbatas.

Namun, medio 2021, PHM hadir menggagas program “Sekolah Terapung”. Program tepat untuk kawasan Delta Mahakam.

Guru dan murid mendapat pembekalan. Sekolah yang serbaterbatas perlahan “menembus batas”.

Dukungan guru penggerak yang bekerja sama dengan Indonesia Mengajar, hadir sebagai pengajar, fasilitator, trainer, dan motivator. Hasilnya luar biasa. Ada tambahan guru PNS tiga orang.

“Kebetulan guru kami yang lama juga akhirnya diangkat jadi PPPK, sekarang genap delapan orang dengan saya,” imbuhnya.

Pelan tapi pasti, pendidikan yang menjadi fundamental kehidupan anak-anak ujung pulau itu terus berkembang.

Program corporate social responsibility (CSR) dari PHM benar-benar terasa di masyarakat pesisir.

Selain guru penggerak, semangat belajar anak-anak semakin terlecut. Hadirnya listrik lewat solar home system. Pembangkit listrik tenaga surya yang dipasang di atap sekolah, mampu menyuplai listrik yang mencukupi kebutuhan pembelajaran rutin.

“Itu (solar cell) sangat membantu. Ditambah sistem internet menggunakan Starlink, anak-anak sekarang jadi terbantu belajanrya,” papar Tandarman.

Sebelumnya di Desa Sepatin listrik menyala hanya 12 jam. Pada pukul 18.00-06.00 Wita. Itu pun menggunakan mesin generator dan dianggap kurang ramah lingkungan.

Dengan edukasi masif, lewat sistem panel surya yang dibantu PHM, sekolah tak lagi kesulitan listrik dan internet.

Tiga televisi digital yang merupakan fasilitas penunjang belajar SMP 6 Anggana bisa dimanfaatkan dengan baik. Termasuk metode belajar menggunakan Chromebook.

“Itu semua berkat kerja sama dengan PHM, pemerintah kabupaten, dan pemerintah desa,” sambungnya.

Buah manis kolaborasi apik itu terasa dalam beberapa tahun. Kini, SMP 6 Anggana menjadi Sekolah Rujukan Google (SRG). Tandarman yakin, ke depan teknologi semakin berkembang.

“Apapun kami berupaya agar anak-anak kita di sini bisa belajar dengan nyaman. Bisa sama kualitasnya dengan di kota. Bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” jelas pria yang juga sebagai ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sepatin itu.

Raihan manis itu belum cukup sampai di situ, SMP 6 Anggana juga diganjar sebagai sekolah Adiwiyata.

Sekolah itu mengajarkan anak-anak peduli terhadap alam lewat menanam tanaman bakau, baik di lingkungan sekolah maupun permukiman.

Meski harus ia akui, ada beberapa tantangan mengembangkan pendidikan di Sepatin. Tidak semata keterbatasan fasilitas.

“Rata-rata orangtua berpikir, setelah anaknya lulus SMP, memilih untuk kerja. Tapi, lewat guru penggerak, mampu menyentuh hati para orangtua anak-anak di sini. Benar-benar ngobrol langsung dengan orang tua dari hati ke hati. Syukurnya, program PHM itu membantu sampai adik-adik kita melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA dan perguruan tinggi,” sambungnya. (rd)

Editor : Romdani.
#delta mahakam #ibu kota nusantara #kutai kartanegara #Sekolah Terakhir #pertamina hulu mahakam