Menurut Ibrahim, perdagangan emas pada Senin, 27 Oktober 2025, diperkirakan bergerak di kisaran US$ 4.006 hingga US$ 4.193 per troy ounce. Ia menyebut, tren positif berpotensi berlanjut setelah tiga hari berturut-turut emas sempat terkoreksi.
“Sabtu pagi harga emas dunia ditutup di US$ 4.112 per troy ounce. Ada ruang penguatan, meski koreksi mingguan masih mungkin terjadi di kisaran US$ 3.970,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Minggu, 26 Oktober 2025.
Faktor Penentu dari Washington
Ibrahim menjelaskan, arah pasar akan banyak ditentukan oleh keputusan The Fed. Beberapa pejabat bank sentral AS—di antaranya Brown, Kerr, dan Barr—memberi sinyal kuat soal rencana pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Langkah itu didukung data inflasi terbaru yang turun menjadi 3 persen, sedikit di bawah ekspektasi pasar.
“Pelaku pasar sebenarnya sudah mengantisipasi penurunan suku bunga. Tapi yang mereka tunggu adalah pernyataan resmi dari The Fed,” ujar Ibrahim.
Jika pemangkasan benar dilakukan, dolar AS cenderung melemah, sementara emas kembali menjadi pilihan lindung nilai bagi investor.
Ruang Penguatan Masih Terbuka
Ibrahim memperkirakan tekanan jual terhadap emas mulai menurun. Dengan sentimen positif dari kebijakan moneter dan meredanya kekhawatiran inflasi, harga emas masih berpotensi menguat menuju level resistance US$ 4.270 per troy ounce.
“Selama kondisi global relatif stabil dan tidak ada guncangan geopolitik baru, arah penguatan emas masih cukup terbuka,” ujarnya.
Editor : Uways Alqadrie