KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tekad Halimah dan suaminya untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci sudah bulat. Impian yang telah mereka rencanakan dari lama itu akhirnya terwujud pada awal Desember 2024.
Tak seperti kebanyakan jemaah, pasangan muda asal Samarinda ini memilih berangkat mandiri, tanpa jasa biro perjalanan.
Semua persiapan diatur sendiri mulai mengurus visa, membeli tiket, hingga mencari hotel. Semua dilakukan demi pengalaman ibadah yang lebih intim bersama keluarga kecilnya.
Pagi itu, di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, Halimah menggenggam erat tangan suaminya. Bayi perempuan mereka yang masih berusia 20 bulan tampak terlelap di pangkuannya.
Hari itu, jadi momen bahagia sekaligus menegangkan bagi keluarga kecil mereka yang akan melakukan perjalanan panjang, hampir memakan waktu sehari (16 jam) untuk menunaikan umrah.
“Ini perjalanan umrah pertama kami. Ingin merasakan pengalaman religius yang lebih private. Selain itu, juga berhubungan dengan pembiayaan yang dapat kami sesuaikan dengan budget yang kami miliki,” ujar Halimah kepada Kaltim Post. Ia dan suaminya sepakat untuk memilih jalur umrah mandiri.
Sebelum memutuskan berangkat mandiri, Halimah membandingkan biaya dengan 4 biro travel. Hasilnya selisih harga bisa mencapai Rp 15 juta untuk paket pasangan dengan satu anak. “Kalau pakai travel ada jasa handling bener-bener tinggal duduk manis, beda jauh dengan mandiri yang harus angkat dan dorong koper sendiri,” sebutnya.
Perjalanan umrah mereka berlangsung selama 11 hari. Waktu keberangkatan dipilih di penghujung tahun, bertepatan dengan musim dingin di Arab Saudi. Sebagai aparatur sipil negara, mereka juga menyesuaikan jadwal cuti kerja.
Pilihan itu, kata Halimah, bukan semata karena biaya. Perjalanan umrah mandiri kelebihannya fleksibel mengatur jadwal beraktivitas, mengingat mereka turut serta membawa putri semata wayangnya yang masih berusia di bawah 2 tahun.
Persiapan dimulai empat bulan sebelumnya. Tiket pesawat dibeli melalui online travel agent (OTA) setelah membandingkan harga dari berbagai maskapai. Urusan visa mereka percayakan pada penyedia layanan yang ditemukan di media sosial.
“Kebetulan beliau juga pegiat umrah mandiri, jadi kami sering bertanya soal akomodasi dan tips perjalanan,” kata Halimah.
Hotel dipesan secara daring, sementara transportasi selama di Saudi mengandalkan taksi lokal, bus bandara dan kereta cepat Haramain. Terkait hotel, umrah mandiri menurut Halimah lebih nyaman juga menentukan penginapan dengan harga yang pastinya bisa disesuaikan.
Di Madinah dia memilih hotel bintang 3 dengan harga Rp 2,2 juta permalam. Di Mekkah di hotel bintang 5 dengan harga 2,5 juta.
“Di Madinah enggak sampai semenit sudah sampai pelataran masjid, kalau di Mekkah hotelnya di pelataran masjid jadi ke masjid cuma semenit, itu juga karena pelatarannya luas sekali, Masyaallah,” terangnya.
Namun, keputusan berangkat mandiri tentu punya tantangan. Bahasa menjadi kendala utama. “Ini perjalanan luar negeri pertama kami dan belum begitu familiar dengan keadaan negara lain,” sebutnya.
Tapi di balik itu, pengalaman spiritual yang dirasakannya tentu sangat indah. “Bagi setiap muslim rasa kerinduan akan tanah suci begitu mengharukan, terutama saat pertama kali memasuki masjid Nabawi. Tak terasa air mata menetes dengan sendirinya, membayangkan bahwa tempat yang saat ini kami pijak pernah menjadi pijakan keseharian Rasulullah semasa hidupnya,” tuturnya.
“Begitupun ketika melihat Ka’bah ada perasaan haru yang sangat luar biasa. Melihat banyaknya umat muslim yang khusuk melaksanakan tawaf membuat perasaan yang sangat sulit untuk bisa digambarkan,” sambungnya.
Untuk logistik, selama di perjalanan, Halimah mengaku sangat aman. “Perbekalan yang kami bawa memang tidak banyak, namun cukup terutama untuk anak kami yang masih MPASI. Bahkan selama di sana kami sangat tertarik untuk mencoba kuliner-kuliner khas Timur Tengah. Apalagi posisi hotel yang sangat strategis menyatu dengan pusat perbelanjaan, sehingga sangat memudahkan kami jika ingin mencoba berbagai macam kuliner baru,” paparnya.
Ia berpesan kepada masyarakat Kaltim yang ingin mencoba jalur mandiri agar benar-benar matang dalam perencanaan. “Niat harus kuat, ilmu ibadah diperbanyak, dan dana disiapkan dengan baik. Kalau bisa, gabung ke grup sosial media umrah mandiri untuk tukar pengalaman,” pesannya.
Apalagi Saudi selalu memiliki kebijakan-kebijakan baru terkait umrah yang biasanya diinformasikan setelah musim haji selesai. “Seperti kebijakan yang berlaku pada musim ini sangat berbeda dengan musim lalu saat kami melaksanakan umrah,” sarannya.
Setelah melewati pengalaman pertama ini, Halimah tak ragu untuk mengulangnya. “Kalau Allah kasih kesempatan lagi, kami tetap ingin umrah mandiri. Perjalanannya bukan hanya ibadah, tapi juga memperkuat ikatan keluarga,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo