KALTIMPOST.ID, Dunia politik Amerika Serikat kembali mencatat sejarah. Seorang pemuda berusia 34 tahun bernama Zohran Kwame Mamdani resmi dilantik sebagai Wali Kota New York Muslim pertama dalam sejarah kota metropolitan itu.
Namun di balik kemenangan politiknya, kisah hidup Mamdani jauh lebih menarik dari sekadar berita kemenangan.
Lahir di Kampala, Uganda, Zohran bukan berasal dari keluarga politisi. Ia justru tumbuh di tengah dunia seni dan akademik.
Ayahnya, Mahmood Mamdani, dikenal sebagai profesor ilmu politik ternama asal Uganda.
Sementara ibunya, Mira Nair, adalah sutradara legendaris asal India yang mengarahkan film pemenang penghargaan internasional Monsoon Wedding.
“Aku tumbuh di rumah di mana ide dan cerita menjadi hal yang sangat berharga,” kata Mamdani dalam wawancara dengan The Associated Press (5/11/2025).
“Ibuku mengajarkan empati melalui film, ayahku mengajarkan analisis melalui politik. Dari keduanya aku belajar, perubahan dimulai dengan pemahaman.”
Perjalanan Tiga Benua yang Membentuk Cara Pandang Zohran Mamdani
Masa kecil Zohran dihabiskan berpindah antara Kampala, Delhi, dan New York. Ia menyerap budaya dari tiga benua — Afrika, Asia, dan Amerika — yang membentuk pandangan sosial-politiknya.
“Perpindahan itu membuatku sadar bahwa keadilan bukan konsep universal tapi sesuatu yang harus diperjuangkan di setiap tempat,” ujarnya.
Zohran kemudian menempuh pendidikan di Bronx High School of Science, salah satu sekolah paling prestisius di New York.
Di sana, ia dikenal aktif dan kritis. Ia bahkan membantu mendirikan tim kriket pertama di sekolah negeri itu — olahraga yang membawanya dekat dengan komunitas imigran Asia Selatan.
Selepas itu, ia kuliah di Bowdoin College, Maine, mengambil jurusan Africana Studies. Ia lulus pada tahun 2014 dan aktif mendirikan organisasi Students for Justice in Palestine, menunjukkan kepeduliannya terhadap isu-isu global.
Awal Perjuangan Politik Zohran Mamdani
Sebelum masuk ke dunia politik, Mamdani bekerja sebagai konselor pencegahan penyitaan rumah di Queens.
Ia membantu keluarga berpenghasilan rendah agar tidak kehilangan rumah mereka.
“Di situ aku melihat langsung betapa tidak adilnya sistem yang ada,” katanya. “Aku tidak bisa hanya menulis atau berbicara. Aku harus ikut memperbaiki.”
Tahun 2019 menjadi titik balik. Ia mencalonkan diri untuk kursi New York State Assembly District 36 — dan menang besar pada 2020, menumbangkan petahana dari Partai Demokrat.
Kemenangannya disebut sebagai gelombang baru politik progresif Amerika.
Kini, setelah memenangkan pemilihan wali kota melawan mantan Gubernur Andrew Cuomo, Zohran Mamdani resmi menjadi Wali Kota ke-111 New York City.
Ia tak hanya termuda dalam beberapa dekade terakhir, tapi juga menjadi simbol keberagaman baru Amerika.
Dalam pidato kemenangannya, ia menegaskan, “Aku berdiri di sini bukan hanya sebagai seorang Muslim, atau anak imigran. Aku berdiri sebagai bukti bahwa mimpi siapa pun sah untuk diperjuangkan.”
Baca Juga: Profil Karlinah Djaja Atmadja: Guru, Aktivis, Istri Wapres Ke-4 RI yang Wafat di Usia 95
Visi yang Berani
Mamdani berjanji akan memperjuangkan transportasi publik gratis, pendidikan anak usia dini tanpa biaya, dan pembekuan harga sewa.
Ia percaya bahwa “keadilan sosial bukanlah impian tapi kebijakan yang bisa diwujudkan.”
Namun, jalannya tak akan mudah. Presiden Donald Trump bahkan sempat menyinggung akan “meminimalkan bantuan federal” jika Mamdani memimpin New York.
Menanggapi hal itu, Mamdani dengan tenang berkata, “Aku tidak terpilih untuk menakut-nakuti mereka yang berkuasa. Aku terpilih untuk memperjuangkan mereka yang lelah menunggu perubahan.”
Bagi banyak warga muda, Mamdani bukan sekadar wali kota — ia adalah simbol perubahan.
“Tidak akan mudah, tapi punya visi itu penting,” ujar Andre Augustine, warga Bronx, kepada Reuters. “Kita akan menagih janji-janji dia. Tapi aku tetap optimis.” ***
Editor : Dwi Puspitarini