KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kehadiran ayah di rumah bagi sebagian orang mungkin hal biasa. Tapi bagi Andriana Julianty, momen itu sudah lama tak ada sejak awal kehamilan. “Selama aku hamil dia bisa dibilang hampir enggak pernah ada di rumah. Perutku aja enggak pernah dielus," kenangnya dengan tenang namun getir.
Menurut perempuan yang dipanggil Nana itu, suaminya kerap beralasan sibuk berkegiatan hingga tidur di majelis. Kehadirannya di rumah nyaris tak pernah dirasakan. Hingga suatu hari, dia menemukan bukti komunikasi suaminya dengan perempuan lain.
“Awalnya dia ngelak kalau itu chat lama karena handphone-nya error. Banyak alasan pokoknya. Bodohnya, aku percaya, sampai akhirnya dia jujur kalau memang pernah sama perempuan lain," ujarnya.
Tapi ternyata tidak ada perubahan sikap. Suaminya meminta maaf, terutama setelah anak pertama mereka meninggal. Mengaku tak akan mengulangi lagi dengan perempuan lain. “Waktu itu dia minta maaf, tapi setelahnya ya sama aja,” ungkapnya.
Rumah tangga yang coba dia pertahankan sejak 2020, akhirnya diputuskan untuk tak menuntut apa pun setelah berpisah pada 2023. Dia lebih memilih fokus membesarkan anak.
“Kalau dia mau ngasih (nafkah), alhamdulillah. Kalau enggak, enggak apa-apa. Karena jujur selama nikah, memang enggak pernah ngasih juga. Aku juga enggak nuntut. Salahku juga, kayaknya waktu itu aku kecintaan betul,” katanya lalu terkekeh pelan.
Peran laki-laki dalam keluarga kini diambil alih oleh ayah dan kakak laki-lakinya. “Anakku Aminah tuh panggil kakakku itu ayah, akrab juga sama bapakku,” tutur perempuan 30 tahun itu. Dia bersyukur anaknya masih memiliki figur laki-laki yang bisa dijadikan panutan.
Dia juga menilai, dukungan keluarga membuat situasi lebih ringan. “Untungnya punya orang tua lengkap. Jadi meskipun enggak ada sosok ayah, Aminah tetap dikelilingi orang yang sayang dia,” tambah karyawan swasta tersebut.
Meski jalan hidupnya berubah, Nana memilih berdamai dengan keadaan. Dia ingin anaknya tumbuh dalam suasana rumah yang tetap penuh kasih. Baginya, rumah tangga bukan lagi soal keutuhan di atas kertas, melainkan tentang siapa yang benar-benar hadir dan bertanggung jawab.
Kini, setiap malam dia menidurkan Aminah sambil berdoa agar kelak anaknya tumbuh tanpa luka. “Aku mau Aminah tahu, dia lahir dari cinta yang tulus, meski enggak ada sosok ayah," ucapnya pelan.
Di Hari Ayah nanti, Nana hanya mengingat satu hal. Tidak semua pria meninggalkan anak atau keluarganya karena alasan ekonomi atau ketidakmampuan menafkahi. Bahwa ada juga yang pergi karena pilihan, bukan karena keadaan, padahal tanggung jawabnya sebagai ayah (baik secara emosional maupun finansial) masih belum ditunaikan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo