Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Banyak Guru Swasta Ingin Pindah ke Negeri, Berharap Kurikulum Tidak Berubah-ubah

Ulil Mu'Awanah • Minggu, 16 November 2025 | 14:44 WIB

 

MODE PERJUANGAN: Muhammad Wildan Mukhallad menilai beban guru swasta lebih berat ketimbang negeri, namun pendapatannya lebih kecil.
MODE PERJUANGAN: Muhammad Wildan Mukhallad menilai beban guru swasta lebih berat ketimbang negeri, namun pendapatannya lebih kecil.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Bukan hanya ucapan terima kasih dari siswa, Hari Guru Nasional juga menjadi kesempatan untuk menengok kembali perjalanan panjang yang dijalani para guru.

Seperti Muhammad Wildan Mukhallad, guru SD 010 Balikpapan Selatan yang menilai momen itu sebagai pengingat betapa dinamisnya dunia pendidikan, terutama ketika ia dan istrinya hidup dalam dua realita sekolah yang sangat berbeda, negeri dan swasta elit.

Perjalanan rumah tangganya menjadikan percakapan tentang pendidikan sebagai bagian sehari-hari. Dari jadwal pulang yang tidak sama, beban kerja yang timpang, hingga kondisi kelas yang kontras. Wildan melihat bagaimana profesi yang sama dapat menyajikan pengalaman yang sangat berlainan.

“Kalau Hari Guru, kami biasanya bisa sedikit bernapas. Ada waktu untuk berkumpul, ikut pelatihan atau sekadar saling menyemangati. Tapi justru sekarang murid yang paling antusias. Mereka kasih kejutan, bukan karena diminta, tapi karena rasa sayang,” ucap Wildan membuka cerita.

Perbedaan paling kentara dalam kehidupan Wildan dan istrinya adalah soal waktu. Sebagai guru negeri, Wildan memiliki jadwal yang relatif stabil. Siswa pulang pukul 13.30 Wita dan ia sendiri selesai sekitar 14.30 Wita.

“Sementara istri saya di swasta sering pulang jelang magrib. Banyak kegiatan tambahan seperti outbound atau kemah yang rapatnya malam. Bahkan kadang sampai menginap,” jelasnya.

Sedangkan dari sisi fasilitas sekolah juga ada kesenjangan. Program pemerintah memberi chromebook untuk sekolah negeri, tetapi jumlahnya jauh dari cukup. “Di sekolah saya cuma ada 30 unit untuk 130 siswa. Jadi digitalisasi belum bisa maksimal,” ujarnya.

Sebaliknya, sekolah swasta elit memiliki laboratorium komputer yang memadai. Namun Wildan berpendapat bahwa teknologi hanyalah alat bantu. Inti pembelajaran tetap terletak pada interaksi guru-murid.

“Berapa pun jumlah laptopnya, ruh pendidikan tetap ada di tatap muka. Anak-anak butuh dibimbing langsung,” tegasnya.

Pengalaman istrinya di sekolah swasta sering memperlihatkan bagaimana dukungan orang tua sangat menentukan kualitas siswa. Di sekolah swasta elit, orang tua aktif dan sangat memperhatikan perkembangan anak.

“Kalau di negeri, banyak orang tua menyerahkan semuanya ke sekolah. Di rumah fokusnya hanya kebutuhan dasar. Ini berpengaruh pada sikap belajar anak,” kata Wildan.

Perbedaan karakter siswa juga membuat pendekatan guru berbeda. Di swasta guru harus berbicara lembut, sementara di negeri ketegasan masih diperlukan untuk menjaga kedisiplinan.

Meski gaji guru negeri sering dianggap lebih baik, Wildan menegaskan bahwa kesenjangan paling besar justru terlihat ketika membandingkan guru negeri dengan guru swasta biasa, bukan swasta elit.

“Kalau dengan swasta elit, gaji tidak terlalu jauh. Alhamdulillah istri di salah satu sekolah swasta yang besar lah. Tapi kalau madrasah atau swasta kecil, beda sekali,” ujarnya.

Wildan masih mengingat betul masa sembilan tahun menjadi honorer, periode yang ia sebut sebagai masa bertahan hidup. “Awal saya mengajar tahun 2013, gaji saya Rp 800 ribu. Saya benar-benar harus irit. Dan kalau sekarang banyak guru honorer gajinya sekitar Rp 1,9 juta setelah BPJS,” ungkapnya.

Dengan kondisi ekonomi sekarang, menurut Wildan, kondisi membuat banyak guru honorer mencari pekerjaan sampingan. Tidak sedikit pula guru honorer adalah perempuan karena gaji mereka umumnya diposisikan sebagai penambah pendapatan keluarga.

Kehidupan guru ternyata tidak hanya soal kelas dan administrasi. Di rumah pun ada pergulatan emosional. “Saya sering merasa kami kekurangan waktu bersama. Istri saya pernah ditawari jadi wakil kepala sekolah, tapi ditolak karena beban kerja berat. Kami takut rumah tangga jadi tidak seimbang,” ceritanya.

Karena alasan itu pula, ia memahami mengapa banyak guru swasta ingin pindah ke negeri. “Saya yakin 90 persen guru swasta mau ke negeri kalau ada kesempatan. Beban di swasta lebih berat, tapi gajinya tidak jauh beda,” ujarnya. Kalau swkolah swasta kecil tentu akan lebih jauh lagi jomplangnya karena gaji kan kembali ke masing-masing yayasan.

Namun seberat apa pun tantangannya, Wildan tetap merasa profesi guru adalah panggilan hidup. Tidak ada pekerjaan lain yang memberinya rasa bangga seperti melihat murid berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

“Melihat anak yang dulu tidak bisa baca lalu jadi lancar, atau anak yang tadinya bandel tapi berubah, itu kebahagiaan yang tidak bisa dibeli,” katanya.

Dalam momentum menyambut Hari Guru, Wildan menitipkan pesan besar, yakni harapan peningkatkan kesejahteraan guru. Ia juga meminta pemerintah berhenti membuat kurikulum yang berubah-ubah.

“Kita ingin meniru negara maju, tapi kita belum siap. Banyak siswa SMP belum lancar membaca. Banyak siswa SMA tidak hafal perkalian dasar. Saya harap jangan memaksa guru mengajar hal yang melompat terlalu jauh,” ujarnya.

Wildan berharap kurikulum tidak lagi berubah hanya karena pergantian pejabat. “Perbaiki dulu literasi, numerasi, dan karakter. Fondasinya harus kuat,” katanya.

Di balik segala dinamika yang ia jalani, Hari Guru bagi Wildan membuka kembali kesadaran bahwa profesi ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah peran yang memikul masa depan generasi bangsa. “Guru itu jalan hidup. Dan selama masih ada anak-anak yang butuh bimbingan, kami akan terus berdiri,” tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#honorer #guru #gaji #negeri #hari guru nasional #swasta