KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Pasar properti di Balikpapan memasuki fase perlambatan pada triwulan III 2025. Terlihat dari survei harga properti residensial (SHPR) Bank Indonesia yang menunjukkan bahwa kenaikan harga jual baru tidak setinggi periode sebelumnya, seiring meredanya pengerjaan proyek besar dan kembalinya permintaan ke pola normal.
Isu utama dari perkembangan ini adalah melambatnya pertumbuhan harga sekaligus turunnya nilai penjualan, sementara pasar semakin bergeser ke segmen rumah terjangkau. Meski demikian, Bank Indonesia menilai prospek jangka menengah sektor ini tetap positif, didukung perbaikan kredit properti serta kebijakan likuiditas yang mendorong pembiayaan.
Indeks harga properti residensial (IHPR) Balikpapan pada triwulan III 2025 tarpantau tumbuh 0,67 persen secara tahunan, lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya sebesar 0,81 persen. Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi menyebut, perlambatan ini terjadi merata pada seluruh kategori rumah.
“Kenaikan harga tertahan pada semua tipe rumah, baik kecil, menengah maupun besar. Ini mencerminkan konsolidasi pasar setelah periode ekspansi yang cukup kuat pada tahun-tahun sebelumnya,” jelas Robi akhir pekan lalu.
Kenaikan harga rumah tipe besar (>70 m²) tercatat 1,66 persen, tipe menengah 0,29 persen, dan tipe kecil 0,23 persen. Angka tersebut lebih rendah dibanding triwulan II 2025 yang masing-masing mencapai 1,84 persen, 0,42 persen, dan 0,38 persen.
Di tengah perlambatan harga, nilai penjualan properti justru turun cukup tajam. Pada triwulan III 2025, nilai penjualan tercatat merosot 44,98 persen secara tahunan. Robi menjelaskan bahwa permintaan kini kembali menuju level normal setelah sebelumnya terdongkrak aktivitas proyek besar seperti kilang Pertamina dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Permintaan properti kita masuk fase normalisasi. Beberapa proyek strategis nasional tidak lagi berjalan semasif dua hingga tiga tahun terakhir, sehingga dampaknya ke transaksi mulai terlihat,” terang Robi.
Meski demikian, pelaku usaha properti tetap responsif. Mereka memfokuskan strategi pada penjualan rumah tipe menengah dan kecil yang paling diminati. Rumah tipe kecil kembali menjadi primadona masyarakat Balikpapan pada triwulan III-2025, ditopang harga yang lebih terjangkau serta fasilitas pembiayaan pemerintah seperti KUR perumahan, Kredit Program Perumahan (KPP) dan FLPP bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Dari sisi pembiayaan, masyarakat Balikpapan masih sangat bergantung pada KPR. Pada triwulan III 2025, 86 persen pembelian rumah primer dilakukan melalui KPR, meskipun sedikit turun dari 89 persen pada triwulan sebelumnya. Pembelian tunai meningkat menjadi 12 persen, sedangkan 2 persen sisanya melalui angsuran bertahap.
Penurunan porsi pembelian kredit ini sejalan dengan melambatnya pertumbuhan KPR. Pada triwulan III 2025, KPR Balikpapan tumbuh 5,02 persen secara tahunan, sedikit turun dari triwulan II-2025 yang tumbuh 5,26 persen.
Walaupun nilai penjualan turun, perbaikan terlihat dari sisi pembiayaan kredit properti secara umum. Kredit properti Balikpapan pada triwulan III-2025 tercatat Rp 1,17 triliun atau terkontraksi 3,46 persen, tetapi kondisi tersebut jauh lebih baik dibanding triwulan sebelumnya yang terkontraksi 8,38 persen.
Robi menyampaikan optimisme bahwa sektor properti Balikpapan masih memiliki peluang pertumbuhan ke depan. “Kami melihat geliat optimisme dari pelaku usaha. Penurunan saat ini bersifat temporer, seiring penyesuaian pasar. Kredit properti sudah menunjukkan perbaikan dan ini sinyal positif untuk 2026,” ujarnya.
Untuk menjaga momentum tersebut, Bank Indonesia memperkuat implementasi kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) yang menyasar sektor-sektor prioritas seperti perumahan, perdagangan, industri, UMKM, transportasi, hingga ekonomi kreatif.
Insentif ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan perbankan menyalurkan kredit ke sektor strategis yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
“Ke depan, KLM akan terus kami optimalkan untuk memperkuat fungsi intermediasi perbankan, terutama pada sektor yang memiliki kontribusi tinggi terhadap ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, termasuk real estate,” kata Robi.
Dengan stabilnya harga, adaptasi para pengembang, serta dukungan kebijakan makroprudensial, pasar properti Balikpapan diperkirakan tetap terjaga. Pergeseran permintaan menuju rumah terjangkau dinilai akan menjadi poros utama dinamika pasar residensial kota ini dalam beberapa triwulan mendatang. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo