Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Nilai Transaksi Tembus Rp41 Triliun, Ini Kota Terboros Pakai Kartu Kredit di Kaltim

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 18 November 2025 | 17:08 WIB

DOMINASI: Dari 10 kabupaten/kota di Kaltim, salah satu daerah sumbang nominal transaksi hingga 50 persen.
DOMINASI: Dari 10 kabupaten/kota di Kaltim, salah satu daerah sumbang nominal transaksi hingga 50 persen.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sistem pembayaran non tunai ritel kini menjadi tulang punggung transaksi harian masyarakat Kalimantan Timur. Fleksibel, cepat, dan tanpa uang fisik. Jadi alasan penggunaan instrumen elektronik seperti kartu debit, kartu kredit, uang elektronik, hingga QRIS terus melejit di berbagai kota.

“Sistem pembayaran non tunai ritel yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia merupakan mekanisme pembayaran elektronik yang digunakan untuk transaksi masyarakat sehari-hari dengan nilai kecil,” tegas Kepala Kantor Perwakilan (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto.

Dari seluruh instrumen yang ada, APMK masih menjadi penggerak transaksi ritel. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan tren yang tak seimbang antara nominal dan volume. Pada triwulan II-2025, nominal transaksi APMK tumbuh 2,24 persen (yoy), lebih rendah dari triwulan I-2025 yang tumbuh 6,85 persen (yoy). "Total nilai transaksi tercatat Rp41,96 triliun," sebut Budi.

Baca Juga: Waduh! Kartu Debit Mulai Ditnggalkan? Volume Transaksi Turun Dalam, Ini Datanya di Kaltim

Sebaliknya, dari sisi volume, APMK justru mengalami penurunan. Volume transaksi berkontraksi 3,28 persen (yoy) pada triwulan II-2025, jauh berbeda dibanding triwulan sebelumnya yang sempat tumbuh 7,00 persen (yoy). Total transaksi turun menjadi 32,15 juta transaksi.

Kondisi serupa juga terlihat pada instrumen kartu kredit. Budi menguraikan bahwa dari sisi nilai, transaksi kartu kredit justru meningkat signifikan. Nominal transaksi tumbuh 5,37 persen (yoy) pada triwulan II-2025, lebih tinggi dari triwulan I-2025 yang hanya tumbuh 0,03 persen (yoy). Secara total, nilai transaksi kartu kredit mencapai Rp868,49 miliar.

Baca Juga: Transaksi SKNBI di Kaltim Tertekan, Sementara BI-FAST Tetap Tumbuh Positif

Namun, pergerakan di sektor volume transaksi tidak sejalan. Volume transaksi kartu kredit turun 4,19 persen (yoy), berbalik arah dari kondisi triwulan I-2025 yang sempat tumbuh 2,16 persen (yoy). Sepanjang triwulan II-2025, jumlah transaksi tercatat 737.655 transaksi.

Dua kota besar menjadi penggerak aktivitas kartu kredit di Kaltim. “Balikpapan dan Samarinda menjadi penggerak utama pertumbuhan transaksi kartu kredit di Kaltim. Berdasarkan nominal transaksi, Balikpapan menyumbang 50 persen, diikuti Samarinda 36 persen. Bontang dan Kutai Kartanegara menempati posisi berikutnya dengan kontribusi masing-masing 4 persen dan 3 persen," paparnya. Dari sisi volume, pola serupa terlihat. Balikpapan mendominasi 55 persen transaksi, disusul Samarinda 41 persen, Bontang 6 persen, dan Kutai Kartanegara 4 persen. (*/riz)

Editor : Muhammad Rizki
#kaltim #qris #pembayaran non tunai