Jumlahnya melonjak tajam begitu pemerintah Beijing mengeluarkan peringatan perjalanan ke Jepang pada Jumat, 15 November 2025.
Analis penerbangan, Li Hanming, menyebut hampir setengah juta tiket rute China–Jepang dibatalkan hanya dalam tiga hari. Angka itu setara sepertiga dari total pemesanan pada periode yang sama.
“Rasio pembatalan terhadap pemesanan baru melonjak tak wajar. Pada Minggu, pembatalan 27 kali lebih banyak dari tiket yang terjual,” ujar Li, dikutip dari Bangkok Post.
Li menjelaskan, dua rute tersibuk—Shanghai-Tokyo dan Shanghai-Osaka—menjadi yang paling terpukul. Maskapai China, yang mendominasi lalu lintas udara kedua negara, kini menanggung potensi kerugian bernilai miliaran yuan dari pengembalian dana.
Sekitar 70 persen tiket yang dibatalkan adalah paket pulang-pergi.
Kondisi ini mengulang situasi pada awal 2020, ketika pandemi Covid-19 pertama kali membatasi perjalanan internasional. Saat itu, kapasitas penerbangan China anjlok lebih dari 70 persen dalam sehari.
Peringatan perjalanan dari Beijing muncul setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada 7 November bahwa Tokyo bisa mengerahkan kekuatan militer jika terjadi konflik di Selat Taiwan. Pemerintah China memprotes keras pernyataan tersebut.
Media resmi militer China, PLA Daily, bahkan menilai Jepang berisiko menjadikan seluruh wilayahnya sebagai arena konflik bila ikut campur soal Taiwan.
John Grant, analis dari firma intelijen penerbangan OAG, mengatakan dampak terbesar akan dirasakan maskapai China. “Pasar rute China–Jepang dikuasai maskapai Negeri Tirai Bambu, sehingga guncangannya jauh lebih berat bagi mereka,” katanya.
Grant menilai penyesuaian kapasitas penerbangan baru akan terlihat beberapa pekan mendatang.
Jepang sendiri sedang menikmati lonjakan wisatawan China sepanjang 2025. Data pemerintah Jepang menunjukkan 7,49 juta turis China masuk pada Januari–September, menjadikannya kelompok wisatawan terbesar.
Faktor jarak dekat, ongkos perjalanan yang relatif murah akibat pelemahan yen, dan daya tarik budaya menjadi pemicunya.
Namun gelombang pembatalan kali ini membuat industri wisata Jepang waswas. Menjelang musim liburan akhir tahun, Jepang terancam kehilangan salah satu kontributor pendapatan wisata terbesar mereka.
Editor : Uways Alqadrie