Di Perumahan Kasai Permai—yang kini berubah menjadi lokasi pengungsian—ratusan warga menyambut kedatangannya dengan hangat di tengah suasana pascabencana yang masih mencekam.
Sekitar seribu pengungsi, sebagian besar keluarga dengan anak-anak, telah menetap di posko itu sejak banjir besar merendam permukiman mereka.
Setiba di lokasi, Presiden langsung masuk ke tenda darurat, menyalami warga satu per satu. Senyum para pengungsi mencairkan ketegangan yang belum hilang sejak bencana datang.
“Walau berada dalam masa sulit, semangat kalian tetap luar biasa,” ujar Presiden, menyapa para warga yang menyodorkan tangan.
Dari tenda, Presiden bergerak ke dapur umum. Ia memantau alur penyediaan makanan dan memastikan logistik tersalurkan secara merata.
Para petugas menjelaskan ritme memasak yang tak berhenti mengingat jumlah pengungsi yang terus berdatangan.
Kepala Negara juga mengunjungi area trauma healing yang disiapkan bagi kelompok rentan, terutama anak-anak.
Sejumlah relawan psikososial tampak mengajak mereka bermain, menggambar, dan bernyanyi—usaha kecil untuk memulihkan ketakutan setelah banjir besar melanda.
Kunjungan Presiden bukan sekadar mengecek kesiapan teknis penanganan bencana. Keberadaannya di tengah para pengungsi dimaksudkan mempertegas peran negara saat warganya menghadapi masa paling susah.
“Pemerintah adalah milik rakyat. Kita bekerja dan berbakti untuk rakyat,” ujarnya. Ia mengajak masyarakat tetap bersatu menghadapi masa sulit sambil menatap pemulihan ke depan.
Editor : Uways Alqadrie