Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Megaproyek Pariwisata Mesir di Gunung Sinai Picu Kontroversi, Diduga Rusak Situs Warisan Dunia UNESCO

Ari Arief • Jumat, 5 Desember 2025 | 05:49 WIB

GUNUNG: Penampakan puncak Gunung Sinai di lembah Saint Catherine.
GUNUNG: Penampakan puncak Gunung Sinai di lembah Saint Catherine.

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Pemerintah Mesir tengah melaksanakan proyek pembangunan skala besar di kawasan Gunung Sinai Selatan, lokasi yang dipercaya oleh tiga agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) sebagai tempat Nabi Musa menerima wahyu.

Aktivitas konstruksi yang berlangsung sejak 2021 ini bertujuan mengubah kota pegunungan Saint Catherine menjadi daya tarik wisata utama.

Namun, proyek senilai hampir US$ 300 juta (sekitar Rp 5 triliun) yang diberi nama "Transfigurasi Agung" atau "Wahyu Santa Catherine" ini menuai protes keras dari para ahli warisan budaya dan penduduk lokal suku Jabaliya.

Baca Juga: Hasil Diplomasi Prabowo di KTT Mesir 2025: Apa yang Diraih Indonesia?

Laporan AFP menyebutkan bahwa suara pengeboran yang nyaring kini mendominasi daerah terjal dan terpencil yang dahulu tenang. Para kritikus menuduh megaproyek ini merusak cagar alam dan situs Warisan Dunia UNESCO, yang merupakan rumah bagi Biara Kristen tertua di dunia.

"Santa Catherine yang kita kenal sudah tiada. Generasi mendatang hanya akan mengenal bangunan-bangunan ini," keluh seorang pemandu veteran dari suku Jabaliya.

Kritik Merusak Situs Bersejarah

Protes terhadap pembangunan di wilayah Saint Catherine menguat karena adanya preseden buruk. Mantan Menteri Pariwisata dan Barang Antik Mesir, Khaled El-Enany, yang di masa jabatannya meluncurkan proyek Saint Catherine, baru-baru ini terpilih sebagai Ketua UNESCO bulan lalu.

Baca Juga: Mandau Menuju UNESCO: Dari Pusaka Dayak Jadi Warisan Dunia

Di masa kepemimpinannya, Mesir juga pernah menghancurkan sebagian besar Pemakaman bersejarah Kota Orang Mati (situs UNESCO lainnya) demi membangun fasilitas parkir.

"Mereka datang begitu saja tanpa mengatakan apa-apa dan menghancurkan pemakaman kami," kata pemandu lokal, seraya menunjuk bahwa area makam kini telah diubah menjadi tempat parkir mobil.

Meskipun para pejabat Mesir menggembar-gemborkan proyek ini akan memberikan manfaat ekonomi dan mengklaim telah melalui konsultasi dengan masyarakat, penduduk lokal mengaku khawatir akan dipaksa pindah dari kawasan tersebut, mengingat banyak warga Mesir lain yang rumahnya dihancurkan demi proyek infrastruktur dengan kompensasi yang minim.

Baca Juga: Geopark Maros-Pangkel Bakal Direvalidasi oleh UNESCO, Wamenpar Pastikan Semua Siap

Peringatan UNESCO Diabaikan

Pada Juli 2025, World Heritage Watch mendesak UNESCO untuk mendaftarkan kawasan ini sebagai situs Warisan Dunia yang terancam.

Pada tahun 2023, setelah protes konservasionis memuncak, UNESCO sempat meminta pemerintah Mesir untuk menghentikan proyek guna mengevaluasi dampaknya dan menyusun rencana konservasi. Namun, proyek tersebut terus berjalan. Pemerintah Mesir bahkan menyatakan pada Januari lalu bahwa megaproyek ini sudah 90 persen rampung.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#unesco #Megaproyek #gunung sinai #mesir