KALTIMPOST.ID-Banjir besar dan tanah longsor melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatra. Puncaknya, pada akhir November lalu.
Sejumlah jembatan rusak, akses terputus, permukiman terendam, dan hampir sejuta warga harus mengungsi.
Sorotan muncul. Soal potensi serupa di berbagai daerah. Mengingat cuaca ekstrem diprediksi masih mengintai.
Situasi di wilayah barat Indonesia itu pun menjadi salah satu acuan pemerintah daerah lain. Untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Termasuk Kaltim.
Di Benua Etam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat sepanjang 1 Januari hingga 25 November 2025 telah terjadi 788 kejadian bencana.
Banjir tercatat sebagai kejadian terbanyak, yaitu 245 kasus. Kebakaran permukiman menyusul dengan 224 kejadian, sementara tanah longsor terjadi 147 kali.
Selain itu, terdapat 50 kejadian gempa bumi, 42 cuaca ekstrem, serta insiden lain seperti abrasi, jembatan roboh, dan kekeringan.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Yasir menyampaikan kabupaten/kota menjadi pihak pertama yang menangani kejadian, sementara BPBD provinsi berperan dalam koordinasi dan dukungan peralatan.
“Kabupaten/kota yang lebih tahu kondisi di lapangan. Provinsi mendukung dengan ekskavator, speed boat, perahu karet, dan perlengkapan lain,” ujarnya setelah apel kesiapsiagaan dan simulasi tanggap darurat di Samarinda, Kamis (11/12).
Dalam kejadian banjir Mahakam Ulu (Mahulu) beberapa waktu lalu misalnya. Menjadi pelajaran.
Distribusi peralatan sempat terkendala ketersediaan bahan bakar di lokasi. Yasir menyebut persoalan tersebut berada di luar kewenangan BPBD, namun koordinasi dilakukan dengan Pertamina agar pasokan dapat segera dipenuhi.
Ia menyebut pola cuaca yang cepat berubah sebagai tantangan koordinasi. “Sering terjadi perubahan kondisi di lapangan. Karena itu, peningkatan komunikasi antarinstansi terus dilakukan,” katanya.
Akhir tahun ini pun, BPBD Kaltim menugaskan 80 personel di tingkat provinsi. Selain itu, BPBD kabupaten/kota menjaga kesiapsiagaan di daerah masing-masing.
Dukungan personel dan perlengkapan juga dikirim ke Kutai Timur dan Berau yang hingga kini masih menangani banjir di sejumlah titik.
Secara wilayah, berdasarkan Data Pusdalops BPBD menunjukkan, Samarinda sebagai wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi sepanjang tahun, yakni 223 peristiwa.
Ibu kota provinsi itu juga mencatat 114 kejadian tanah longsor. Terbanyak di Kaltim. Kutai Barat dan Kutai Timur berada di urutan berikutnya dengan masing-masing 99 kejadian.
Kerusakan yang tercatat meliputi 35.681 rumah tergenang, 120 fasilitas sosial terdampak, 55 sekolah, dan 36 fasilitas kesehatan.
Infrastruktur yang terpengaruh mencakup 23,46 kilometer jalan, 15 jembatan, serta 48 kantor pemerintahan. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan menghanguskan sekitar 333 hektare lahan.
Korban terdampak mencapai 150.152 jiwa, dengan 73 meninggal dunia, 22 hilang, 50 luka-luka, dan 278 mengungsi.
Adapun berdasarkan wilayah rawan banjir kiriman terpetakan di Mahulu, Kutai Barat, Kutai Timur, Berau, dan Paser. Untuk banjir rob, ancaman paling besar berada di kawasan pesisir seperti Samarinda, Balikpapan, dan Penajam Paser Utara.
Koordinator Pusdalops BPBD Kaltim Cahyo Kristanto menyebut pendataan dilakukan melalui laporan harian kabupaten/kota yang kemudian diverifikasi.
“Pendataan dilakukan berjenjang. Setiap kejadian disampaikan melalui sistem laporan cepat, kemudian diinput ke data provinsi,” ungkapnya. (rd)
Editor : Romdani.