Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung sejak awal tahun.
Minyak Brent diperdagangkan di sekitar US$59 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$55 per barel. Dalam sepekan terakhir, harga terkoreksi sekitar 4 persen dan telah merosot lebih dari 20 persen sepanjang 2025.
Bagi pelaku pasar, kejatuhan ini bukan sekadar koreksi jangka pendek. Ada perubahan cara pandang terhadap peta energi global.
Salah satu pemicunya adalah memudarnya ketegangan geopolitik. Konflik Rusia–Ukraina yang selama ini menopang premi risiko mulai kehilangan daya dorong. Isyarat diplomasi, termasuk pembicaraan keamanan antara Amerika Serikat dan Ukraina, dibaca sebagai sinyal bahwa eskalasi perang kian terbatas.
Jika konflik mereda, peluang pelonggaran sanksi terhadap Rusia terbuka. Artinya, pasokan minyak yang selama ini tertahan berpotensi kembali membanjiri pasar. Dalam kondisi suplai yang sudah longgar, tambahan barel menjadi beban baru bagi harga.
Tekanan juga datang dari sisi permintaan. China, konsumen energi terbesar dunia, menunjukkan tanda perlambatan. Aktivitas industri melemah, konsumsi melambat, dan pertumbuhan ekonomi kehilangan tenaga. Bagi pasar minyak, perlambatan China ibarat jangkar yang terlepas.
Analis menilai permintaan global saat ini belum cukup kuat untuk menyerap pasokan yang terus mengalir. Transisi energi di China—melalui adopsi kendaraan listrik dan efisiensi energi—ikut mengikis pertumbuhan konsumsi bahan bakar fosil.
Sementara itu, gangguan pasokan global tak lagi menimbulkan efek kejut. Penyitaan kapal tanker, sanksi tambahan, hingga konflik regional dinilai tidak cukup untuk mengubah keseimbangan pasar. Stok minyak di laut dan kapasitas produksi global masih dianggap memadai.
Kondisi ini memperkuat satu kesimpulan: pasar tengah menghadapi fase kelebihan minyak.
Tekanan paling berat dirasakan Rusia. Harga minyak Urals, andalan ekspor negeri itu, anjlok ke sekitar US$37 per barel—terendah sejak 2020. Sanksi Amerika Serikat, diskon besar di pasar Asia, dan persaingan ketat dengan produsen Timur Tengah mempersempit ruang gerak Moskow.
Minyak Rusia kini dijual dengan selisih harga ekstrem terhadap Brent. Dalam beberapa pekan terakhir, penurunan harga Urals jauh lebih dalam dibandingkan minyak acuan global.
Padahal, sektor energi merupakan tulang punggung keuangan Rusia. Pendapatan minyak dan gas menyumbang seperempat anggaran negara sekaligus menjadi sumber pembiayaan utama perang.
Tekanan bertambah akibat serangan terhadap infrastruktur energi dan melemahnya permintaan Asia. Ekspor memang masih berjalan, tetapi semakin sulit menemukan pembeli. Akibatnya, volume minyak Rusia yang mengapung di laut terus meningkat.
Kombinasi pelemahan permintaan, suplai berlebih, dan surutnya risiko geopolitik membuat harga minyak kehilangan pijakan. Selama tidak ada pemulihan ekonomi global yang signifikan—terutama dari China—pasar memperkirakan tekanan harga belum akan berakhir.
Editor : Uways Alqadrie