Pemerintah menyebut kondisi itu masih berada dalam koridor yang direncanakan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan defisit terjadi karena belanja negara masih lebih besar dibandingkan pendapatan. Meski demikian, ia menilai keseimbangan fiskal tetap terjaga.
“Defisit ini masih terkelola dan sesuai desain APBN,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Kamis, 18 Desember 2025.
Pendapatan negara hingga akhir November tercatat sebesar Rp 2.351,5 triliun atau 82,1 persen dari target tahun berjalan. Penerimaan itu bersumber dari pajak sebesar Rp 1.634,4 triliun, kepabeanan dan cukai Rp 269,4 triliun, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 444,9 triliun.
Sementara itu, belanja negara mencapai Rp 2.911,8 triliun atau 82,5 persen dari outlook. Belanja tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp 2.116,2 triliun dan transfer ke daerah Rp 795,6 triliun.
Pemerintah menyatakan belanja difokuskan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan mendukung program prioritas.
Purbaya menambahkan, realisasi fiskal tersebut mencerminkan pengelolaan anggaran yang berhati-hati di tengah tekanan ekonomi global. Keseimbangan primer tercatat defisit Rp 82,2 triliun, namun masih dianggap dalam batas aman.
Editor : Uways Alqadrie