Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

ASITA Kaltim Optimistis Pariwisata Menggeliat Jelang Nataru, IKN Jadi Magnet Wisatawan

Muhammad Ridhuan • Minggu, 21 Desember 2025 | 17:05 WIB
Istana Garuda di IKN.
Istana Garuda di IKN.

KALTIMPOST.ID-Menjelang puncak libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026, Kaltim kembali berada di persimpangan penting sektor pariwisata.

Di satu sisi, kesiapan infrastruktur mulai menunjukkan kemajuan, dari penguatan layanan di Bandara Internasional SAMS Sepinggan Balikpapan hingga rencana pembukaan jalur fungsional Tol IKN.

Di sisi lain, industri wisata masih menghadapi tantangan klasik. Yakni konektivitas, harga, dan kesiapan layanan.

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Kaltim Syarifuddin Tangalindo menilai momentum Nataru tahun ini membawa optimisme yang lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menurut pria yang akrab disapa Udin itu, ada perubahan nyata dalam cara pemerintah memandang libur akhir tahun sebagai peluang ekonomi, bukan sekadar rutinitas tahunan.

“Untuk Nataru kali ini saya cukup optimis. Tiket pesawat sekarang jauh lebih rasional dibanding tahun-tahun sebelumnya, dan itu sangat berpengaruh terhadap minat wisatawan,” ujarnya.

Optimisme tersebut tidak berdiri sendiri. Udin menyebut daya tarik IKN masih menjadi magnet utama yang mendorong kunjungan wisatawan ke Kaltim.

Rasa penasaran publik terhadap perkembangan IKN, menurutnya, masih kuat dan berdampak langsung pada tingkat hunian hotel, khususnya di Balikpapan.

“Beberapa hotel di Balikpapan sudah mulai penuh. Itu sinyal bahwa pergerakan wisatawan memang mulai terasa,” katanya.

Kondisi ini sejalan dengan kesiapan Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan yang memprediksi lonjakan penumpang selama Nataru, dari rata-rata 16–17 ribu orang per hari menjadi sekitar 20–21 ribu penumpang.

Namun, menurut ASITA, kesiapan bandara saja tidak cukup jika tidak diikuti oleh ekosistem pariwisata yang solid dari hulu ke hilir.

Udin menyinggung potensi dampak kebijakan fiskal, khususnya terkait transfer ke daerah, yang berpotensi menekan segmen wisata berbasis pertemuan atau MICE.

“Kalau dari sisi pemerintah, tentu berpengaruh. Selama ini MICE banyak digerakkan oleh instansi pemerintah. Kalau anggaran terbatas, kegiatan itu pasti berkurang,” ujarnya.

Di tengah dinamika tersebut, perkembangan konektivitas menjadi perhatian utama. Rencana pembukaan fungsional Tol IKN selama periode Nataru dinilai sebagai langkah strategis, meski masih bersifat sementara.

“Kami dapat informasi tol ke arah IKN akan dibuka saat Nataru. Harapannya bukan hanya dibuka sementara, tapi bisa berlanjut karena ini akan sangat memudahkan akses,” kata Udin.

Ia menilai akses darat ke destinasi unggulan seperti Berau juga menunjukkan perbaikan, meski waktu tempuh masih menjadi pekerjaan rumah.

Perjalanan darat dari Samarinda ke Berau yang sebelumnya terkendala kerusakan jalan kini relatif lebih mulus, meskipun masih memakan waktu hingga belasan jam.

“Jalan sudah lebih baik, walaupun memang waktu tempuh masih panjang. Ini perlu perhatian jangka panjang,” ujarnya.

Dari sisi penerbangan, Udin menilai dinamika penyesuaian rute maskapai masih wajar, selama rute-rute utama atau “gemuk” tetap terjaga.

Ia mengingatkan bahwa berkurangnya operator di suatu rute berpotensi memicu kenaikan harga tiket akibat minimnya persaingan.

“Yang penting rute utama seperti Balikpapan–Jakarta, Balikpapan–Surabaya, Balikpapan–Makassar tetap ada. Kalau itu aman, ekosistem masih bisa berjalan,” katanya.

Menutup pandangannya, Udin menekankan pentingnya kesiapan menyeluruh dari pemerintah dan pelaku industri wisata.
Ia menilai agar momentum Nataru tidak dirusak oleh praktik “harga naik dadakan” atau layanan yang tidak optimal.

“Wisatawan datang karena tertarik, jangan sampai pulang dengan kekecewaan. Transportasi, akomodasi, hingga pelayanan harus siap. Jangan haji mumpung,” tegasnya.

Libur Nataru tahun ini, baginya, bukan hanya soal ramainya wisatawan. Ia menjadi ujian apakah pembangunan infrastruktur, kesiapan bandara, pembukaan tol, dan kesiapan industri wisata benar-benar mampu berjalan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. (rdh/rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #magnet wisata #ibu kota nusantara #Kutai Barat #istana negara