KALTIMPOST.ID, JAKARTA-Ketegangan antara Teheran dan Washington mencapai titik didih baru setelah petinggi militer Iran melayangkan ancaman terbuka terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Iran menegaskan bahwa setiap agresi militer dari pihak AS akan dibalas dengan serangan mematikan yang menyasar seluruh pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah.
Mohsen Rezaei, jenderal senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sekaligus anggota Dewan Kebijaksanaan Iran, memberikan respons pedas terhadap retorika perang yang dilontarkan Trump. Dalam sebuah pidato, Rezaei menegaskan kesiapan militer Iran untuk menghadapi konfrontasi fisik.
"Trump mengklaim jarinya sudah berada di pelatuk. Jika dia berani, kami tidak hanya akan menghentikannya, tapi kami akan memotong tangan dan jari-jarinya," ujar Rezaei melalui laporan Iran International.
Rezaei juga menutup pintu diplomasi jika konflik bersenjata pecah. Ia menyatakan bahwa Iran tidak akan melayani negosiasi gencatan senjata apabila serangan telah dimulai. Ia memperingatkan pasukan AS untuk segera menarik diri jika tidak ingin pangkalan militer mereka menjadi target sasaran.
Berdasarkan laporan Fox News, Pentagon mulai menggerakkan aset militer di darat, laut, dan udara guna menyiapkan opsi serangan bagi Presiden Trump.
Laporan tersebut mengonfirmasi adanya pergeseran posisi kapal induk menuju Timur Tengah, meski belum dapat dipastikan apakah armada tersebut adalah USS Abraham Lincoln atau unit tempur lainnya yang berangkat dari San Diego dan Norfolk.
Baca Juga: Ketika Lentera Malam Mulai Padam, Menelusuri Jejak Kepunahan Kunang-Kunang
Mohsen Rezaei bukan figur sembarangan; ia merupakan mantan Panglima Tertinggi IRGC yang memiliki pengaruh besar dalam kebijakan pertahanan Iran. Sejak Januari 2020, Rezaei telah masuk dalam daftar hitam sanksi Departemen Keuangan AS karena perannya yang dianggap memicu instabilitas regional.
Di tengah ancaman perang tersebut, kondisi domestik Iran sendiri sedang bergejolak. Memasuki hari ke-19 kerusuhan internal, Badan Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) melaporkan bahwa sedikitnya 2.677 orang telah ditahan oleh otoritas keamanan setempat.(*)
Editor : Thomas Priyandoko