KALTIMPOST.ID-Sejarah transportasi massal berbasis bus di Kaltim tidak dapat dilepaskan dari pola pembangunan wilayah yang sejak awal lebih berpihak pada kendaraan pribadi dan angkutan tidak terjadwal.
Sejak era awal pembentukan provinsi hingga mendekati tahun 2020, wajah transportasi darat di Kaltim didominasi sepeda motor, mobil pribadi, angkutan kota konvensional, serta bus antar kota antar provinsi (AKAP).
Jalur Samarinda–Balikpapan menjadi urat nadi utama pergerakan orang dan barang. Namun peran bus lebih banyak sebagai pengangkut jarak menengah dan jauh, bukan sebagai moda harian masyarakat perkotaan.
Di kota-kota besar seperti Samarinda dan Balikpapan, mobilitas warga selama puluhan tahun bertumpu pada angkutan kota dan kendaraan sejenis.
Moda itu beroperasi tanpa jadwal pasti, minim fasilitas pendukung, serta tidak terintegrasi dengan moda lain.
Seiring meningkatnya kepemilikan sepeda motor, angkutan umum konvensional semakin terpinggirkan.
Kondisi tersebut membentuk budaya mobilitas yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi, sementara penggunaan transportasi publik tidak pernah tumbuh secara konsisten.
Memasuki dekade 2010-an, ketertinggalan Kaltim semakin terasa ketika sejumlah kota besar di Pulau Jawa mulai membangun sistem bus rapid transit (BRT) dan angkutan perkotaan berbasis layanan terjadwal.
Di Kaltim, upaya pembenahan transportasi publik masih bersifat sporadis dan terbatas pada perbaikan layanan AKAP atau angkutan antarkota.
Belum ada sistem bus perkotaan yang benar-benar dirancang sebagai tulang punggung mobilitas harian warga.
Perubahan arah kebijakan mulai terlihat setelah pemerintah pusat menetapkan sebagian wilayah Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN).
Penetapan tersebut membawa implikasi besar terhadap kebutuhan mobilitas yang lebih efisien, terencana, dan berkelanjutan, terutama di wilayah penyangga seperti Balikpapan dan Samarinda.
Dalam konteks itu, bus dipandang sebagai moda awal yang paling realistis untuk dikembangkan, baik dari sisi biaya, kesiapan infrastruktur, maupun fleksibilitas rute.
Balikpapan kemudian menjadi kota pertama di Kaltim yang memulai langkah konkret pengembangan transportasi bus perkotaan modern.
Melalui skema buy the service (BTS) yang difasilitasi Kementerian Perhubungan, Pemkot Balikpapan meluncurkan layanan Balikpapan City Trans (Bacitra).
Layanan itu dirancang dengan konsep berbeda dari angkutan kota konvensional, mulai dari penggunaan armada yang lebih modern, jadwal operasi yang teratur, hingga sistem pembayaran non-tunai. (rd)
Editor : Romdani.