KALTIMPOST.ID — Sejumlah praktisi optimasi mesin pencari (SEO) melaporkan adanya fluktuasi peringkat Google sejak 12 Januari 2026.
Perubahan ini diduga masih berkaitan dengan Google Core Update Desember 2025 yang berlangsung selama 18 hari, mulai 11 hingga 29 Desember 2025.
Pengamat SEO internasional Barry Schwartz menyebutkan, meski sebagian besar alat pemantau peringkat menunjukkan kondisi relatif tenang, percakapan di kalangan SEO justru meningkat.
Banyak pemilik situs melaporkan grafik trafik yang naik-turun tajam, menyerupai alat pendeteksi gempa.
Google diketahui tidak melakukan “pembersihan spam” dalam pembaruan tersebut.
Sebaliknya, perusahaan mesin pencari itu menyesuaikan ulang sistem pemeringkatan untuk lebih mengutamakan konten yang dinilai relevan, memuaskan, dan benar-benar bermanfaat bagi pengguna.
Dampaknya terasa signifikan pada situs bisnis dan toko daring, termasuk platform e-commerce berbasis WooCommerce.
Pelacakan industri menunjukkan adanya pergeseran besar di sektor ritel digital, dengan sebagian situs mencatat lonjakan trafik, sementara lainnya mengalami penurunan tajam.
Google menegaskan bahwa pembaruan inti algoritma bertujuan menghadirkan hasil pencarian yang “layak diklik”.
Konten yang cenderung diuntungkan adalah yang menunjukkan pengalaman dan keahlian nyata (E-E-A-T), mampu menjawab kebutuhan pengguna secara menyeluruh, serta mengutamakan kualitas dibanding kuantitas halaman.
Google juga menepis anggapan bahwa konten berbasis kecerdasan buatan (AI) otomatis dilarang.
Yang menjadi sasaran penurunan justru konten dangkal dan tidak membantu, terutama halaman hasil produksi massal yang hanya mengejar kata kunci tanpa nilai tambah nyata.
Bagi pengelola toko daring, halaman kategori yang tipis, deskripsi produk duplikat, serta minimnya sinyal kepercayaan disebut sebagai area paling rentan terdampak.
Sebaliknya, peluang perbaikan terbuka melalui panduan belanja yang jelas, FAQ relevan, ulasan pelanggan, serta informasi pengiriman dan pengembalian yang transparan.
Para pakar menyarankan pemilik situs tidak panik. Langkah paling efektif adalah mengidentifikasi sekitar 10 halaman dengan penurunan performa terbesar, menyesuaikan konten dengan maksud pencarian pengguna, menambah bukti dan contoh nyata, serta menghapus bagian yang tidak memberi nilai.
Google hingga kini belum mengumumkan pembaruan algoritma baru pada Januari 2026. Namun, para praktisi sepakat fluktuasi yang terjadi merupakan efek lanjutan dari penyesuaian besar di akhir 2025.
Intinya, pembaruan ini menjadi pengingat bahwa Google semakin selektif. Konten yang dibuat semata-mata untuk mesin pencari berisiko tersingkir, sementara konten yang membantu pengguna secara nyata justru berpeluang naik peringkat.(*)
Editor : Thomas Priyandoko