Dalam perdagangan akhir Januari, harga emas spot sempat jatuh hampir 10 persen dan ditutup di kisaran US$4.864 per troy ounce. Sehari sebelumnya, emas sempat menyentuh puncak historis di atas US$5.500 sebelum akhirnya dibanting tajam dalam hitungan jam. Volatilitas ekstrem ini menjadikan Januari 2026 sebagai salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah pasar logam mulia.
Data pasar menunjukkan penurunan tersebut tercatat sebagai yang terbesar sejak Februari 1983, ketika emas pernah ambruk lebih dari 12 persen dalam sehari. Ironisnya, koreksi ini terjadi setelah emas mencatatkan reli panjang, dengan kenaikan lebih dari 13 persen sepanjang Januari dan membukukan penguatan bulanan keenam secara beruntun.
Analis logam mulia David Morgan menilai penurunan tajam ini bukan peristiwa anomali. Dalam berbagai siklus sebelumnya, lonjakan harga yang berlangsung terlalu cepat kerap diikuti koreksi dalam yang sama agresifnya.
Menurut Morgan, pergerakan harga yang bersifat parabolik rawan terhenti ketika momentum teknikal terputus dan aksi jual dipicu oleh mekanisme otomatis pasar.
Ia mengingatkan bahwa emas dan perak dalam sejarahnya pernah terkoreksi hingga 20–40 persen dari level tertinggi sebelum menemukan titik keseimbangan baru. Pola serupa sempat terlihat awal tahun ini, ketika emas anjlok lebih dari 8 persen dalam satu hari, sementara perak jatuh jauh lebih dalam dari puncaknya.
Meski demikian, Morgan menilai prospek jangka panjang logam mulia belum sepenuhnya pudar. Permintaan fisik global dan ketidakpastian ekonomi makro masih menjadi penopang fundamental. Namun, ia mengingatkan investor agar tidak bersikap reaktif terhadap lonjakan harga jangka pendek, mengingat risiko volatilitas tetap tinggi.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Strategi Logam MKS PAMP SA, Nicky Shiels. Ia menyebut Januari 2026 sebagai bulan paling fluktuatif bagi pasar emas dan perak. Menurutnya, koreksi lanjutan masih mungkin terjadi untuk membentuk struktur harga yang lebih sehat.
Dalam skenario tersebut, emas diperkirakan berpotensi menguji area US$4.600 per troy ounce, sementara perak dan platinum juga berpeluang turun ke level yang lebih rendah sebelum kembali melanjutkan tren bullish jangka menengah.
Di luar faktor teknikal, ketidakpastian geopolitik global tetap menjadi latar belakang pergerakan harga. Ketegangan di Timur Tengah, risiko penghentian sementara pemerintahan Amerika Serikat, hingga kebijakan tarif dan tekanan geopolitik lintas kawasan masih membayangi pasar keuangan global.
Pembelian emas oleh bank sentral dunia juga masih menjadi bantalan struktural bagi harga. Meski lajunya mulai melambat dibandingkan periode pasca-2022, permintaan tersebut dinilai tetap berperan menjaga emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Editor : Uways Alqadrie