KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Nasib Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) Samarinda kini berada di tangan hasil pengujian teknis. Setelah tiga kali ditabrak tongkang bermuatan batu bara dalam rentang Desember 2025 hingga Januari 2026, jembatan vital penghubung arus logistik antardaerah itu kembali menjalani serangkaian uji keselamatan.
Hasil pengujian diperkirakan baru bisa diumumkan kepada publik pada pekan depan. Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (DPUPR-Pera) Kaltim, Muhammad Muhran menjelaskan, pengujian kali ini dilakukan menggunakan dua metode, yakni non-destructive test (NDT) dan uji dinamis.
Pengujian ulang tersebut dilakukan menyusul insiden terbaru pada 25 Januari 2026, ketika fender dan pilar jembatan, khususnya Pilar P9 dan P10 kembali tertabrak tongkang.
Baca Juga: Jembatan Mahulu Samarinda Ditutup Total Besok 4 Februari 2026, Cek Jadwal dan Jalur Alternatif
“Sejatinya pengujian ini ingin kami lakukan secepat mungkin. Namun tim penguji baru datang dari Ambon, sehingga baru bisa dilaksanakan hari ini. Pelaksanaan juga sempat tertunda karena hujan,” ujar Muhran, Rabu (4/2/2026).
Penutupan sementara Jembatan Mahulu, kata Muhran, merupakan langkah preventif demi keselamatan pengguna jalan. Pihaknya pun menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi.
“Langkah ini kami ambil semata-mata untuk menjaga keamanan, keselamatan, dan kesehatan struktur jembatan yang merupakan aset bersama,” ujarnya. Pengujian dilakukan di lebih dari satu titik, termasuk pada pilar-pilar yang sebelumnya mengalami tabrakan.
Muhran menyebut, uji dinamis pada Pilar P9 dan P10 sebenarnya telah dilakukan sebelumnya. Namun, hasil pengujian terbaru tetap dibutuhkan sebagai dasar pengambilan keputusan lanjutan.
Baca Juga: Insiden Berulang di Jembatan Mahulu, Sabaruddin Panrecalle: Sterilkan Jalur Sungai!
“Secara umum, hasil uji pertama dan kedua menyatakan jembatan dalam kondisi aman dan sehat. Tetapi karena ini sudah kejadian ketiga, kami memilih untuk tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” kata Muhran.
Adapun hasil resmi pengujian biasanya membutuhkan waktu sekitar satu pekan untuk diolah sebelum dipublikasikan. Dalam pengujian kali ini, beban yang digunakan mencapai delapan ton, dengan metode uji dinamis dan NDT. Rincian teknis hasil pengujian akan disampaikan lebih lanjut oleh tim ahli.
Senada, Tenaga Ahli Struktur dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Christopher Triyoso menjelaskan, pengujian yang dilakukan berfokus pada uji getaran atau uji dinamis jembatan.
Baca Juga: Kapal Kerap Tabrak Jembatan Mahulu, Akademisi Nilai Tak Ada Efek Jera bagi Pelaku
Dalam proses tersebut, tim menggunakan truk berukuran sedang bukan untuk membebani struktur, melainkan untuk memicu getaran. “Tujuannya untuk mengetahui frekuensi getaran jembatan. Setiap struktur memiliki karakteristik getaran yang berkaitan dengan tingkat kekakuannya. Jika kekakuan berubah, frekuensi getaran juga akan berubah. Itu yang kami evaluasi,” jelas Christopher.
Pengujian difokuskan pada satu bentang jembatan yang memiliki tiga pilar. Hentakan dilakukan di dua titik, yakni di tengah bentang dan seperempat bentang, yang dinilai cukup merepresentasikan kondisi struktur. Kendati demikian, Christopher menegaskan, hasil yang diperoleh saat ini masih bersifat sementara. “Pengolahan data biasanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu sampai bisa disimpulkan secara menyeluruh,” ujarnya. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki