Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kisah Rumah Singgah Kanker Etam di Samarinda: Harapan bagi Pejuang Kanker, Bertahan dari Solidaritas dan Pengalaman Seorang Penyintas

Eko Pralistio • Senin, 9 Februari 2026 | 07:15 WIB

 

TEMPAT SEMENTARA: Pasien kanker dan pendamping beraktivitas di Rumah Singgah Kanker Etam, Samarinda, menjadi tempat pulang sementara bagi pejuang kanker dari berbagai daerah yang menjalani pengobatan.
TEMPAT SEMENTARA: Pasien kanker dan pendamping beraktivitas di Rumah Singgah Kanker Etam, Samarinda, menjadi tempat pulang sementara bagi pejuang kanker dari berbagai daerah yang menjalani pengobatan.

Lima belas tahun lalu, Siti Nurmala adalah pasien yang kebingungan mencari tempat singgah. Hari ini, ia tidur di rumah yang sama dengan para pejuang kanker—agar tak seorang pun mengulang kesepian yang pernah ia rasakan.

EKO PRALISTIO, Samarinda

pralistioeko@gmail.com

DI sebuah rumah kontrakan di Jalan Delima Nomor 53, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu, harapan tidak pernah benar-benar padam. Ia hadir lewat segelas jus di pagi hari, tumpukan sembako di dapur, dan kesabaran para pendamping yang setia menemani pasien kanker menunggu giliran berobat. Di rumah sederhana itulah, banyak pejuang kanker menemukan tempat untuk bertahan, meski hanya sementara.

Rumah itu bernama Rumah Singgah Kanker Etam. Ia menjadi persinggahan bagi pasien kanker dari berbagai daerah, mulai dari pelosok Kalimantan hingga Sulawesi, yang harus menjalani pengobatan di rumah sakit rujukan di Samarinda. Di balik berdirinya rumah singgah ini, ada sosok Siti Nurmala, penyintas kanker serviks yang kini mendedikasikan hidupnya untuk membantu sesama pejuang kanker. Perjalanan Siti bukan cerita yang tiba-tiba. Ia tumbuh dari pengalaman panjang, dari luka yang pernah dirasakannya sendiri.

Siti mulai terlibat dalam aktivitas rumah singgah sejak 2018 bersama sejumlah tenaga kesehatan. Namun, pada Maret 2022, ia memutuskan mendirikan Rumah Singgah Kanker Etam secara mandiri. Keputusan itu lahir dari pengalaman personal. Lima belas tahun lalu, Siti pernah berada di posisi para pasien yang kini ia dampingi. Saat itu, ia harus berobat ke luar daerah karena keterbatasan fasilitas. BPJS Kesehatan belum ada. Biaya besar, jarak jauh, dan ketidakpastian menjadi bagian dari hari-harinya.

Baca Juga: Terinspirasi Pakan Orangutan, 11 Tanaman di Wehea-Kelay Punya Potensi Medisinal Jadi Obat Kanker dan Diabetes

“Karena saya pernah merasakan sendiri,” kata Siti. “Saya tahu rasanya sakit, bingung, dan tidak punya tempat singgah yang layak,” jelasnya ketika ditemui Kaltim Post, Minggu (8/2/2026). Pengalaman itulah yang menjadi fondasi utama berdirinya rumah singgah. Bagi Siti, rumah ini bukan sekadar tempat bermalam, melainkan ruang aman bagi pasien yang sedang berjuang melawan penyakitnya.

Rumah Singgah Kanker Etam terbuka bagi pasien kanker yang tengah menjalani terapi dan pengobatan dari luar kota maupun luar daerah. Seluruh layanan diberikan secara gratis, tanpa pungutan biaya apa pun.

Fasilitas yang disediakan meliputi tempat tidur, kebutuhan pokok harian, bantuan transportasi ke rumah sakit, hingga kebutuhan khusus seperti popok bagi pasien tertentu. Setiap pagi, pasien juga diwajibkan minum jus sebelum sarapan. Pada akhir pekan, ada kegiatan senam ringan dan sesekali agenda penyegaran untuk membantu pasien sejenak keluar dari rutinitas pengobatan.

Durasi tinggal pasien tidak dibatasi. Ada yang hanya satu atau dua hari, ada pula yang berbulan-bulan. Semua bergantung pada jadwal dan proses pengobatan di rumah sakit. “Kalau mereka harus menunggu lama antre CT scan atau terapi lanjutan, biasanya mereka tinggal di sini dulu,” ujar Siti.

Mayoritas pasien berasal dari Berau, Kalimantan Utara, hingga daerah luar Kalimantan seperti Makassar, Kendari, dan Banjarmasin. Sebagian besar menggunakan BPJS Kesehatan untuk pembiayaan medisnya.

Baca Juga: Catat! Ini 3 Jenis Vaksin Wajib bagi Calon Jemaah Haji Kaltim 2026 dan Lokasi Suntiknya

Di tengah aktivitas kemanusiaan itu, Siti mengaku Rumah Singgah Kanker Etam belum pernah menerima bantuan fasilitas dari pemerintah daerah, baik kota maupun provinsi. Ia sudah beberapa kali mengajukan permohonan bantuan, termasuk kendaraan operasional untuk penjemputan pasien, namun belum membuahkan hasil.

“Sudah beberapa kali mengajukan, terakhir tahun 2025. Mungkin belum rezeki,” katanya. Untuk menjaga operasional, rumah singgah bertahan dari dukungan masyarakat dan pihak swasta. Siti dan relawan mencari cara-cara kreatif, salah satunya dengan menjual pakaian bekas layak pakai dan minyak jelantah.

Pakaian bekas dijual dengan harga Rp 5–10 ribu per potong. Minyak jelantah dikumpulkan hingga mencapai 100 liter sebelum dijual. Seluruh hasilnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari rumah singgah.

“Daripada dibuang, lebih baik dimanfaatkan,” kata Siti. “Alhamdulillah, Samarinda ini orang-orangnya baik,” imbuhnya. Meski berjalan tertatih-tatih, Siti mengaku tak pernah terpikir untuk menutup rumah singgah. Ia percaya, selalu ada jalan selama niat baik dijaga.

Pasien yang singgah datang dengan latar belakang dan stadium kanker yang beragam. Masing-masing membawa cerita tentang rasa sakit, tekanan mental, dan persoalan finansial. Siti pernah mendapati seorang pasien yang sama sekali tidak memegang uang—hal yang baru diketahui saat pasien itu hendak pulang ke Malinau.

Baca Juga: Sepanjang 2025, 42 Ribu Warga Samarinda Manfaatkan CKG: Masalah Gigi hingga Hipertensi Masih Dominan

Keluarga pasien mengira semua kebutuhan telah tercukupi. “Saya langsung hubungi keluarga dan teman-teman. Alhamdulillah ada yang bantu,” kenangnya. Menurut Siti, peran pendamping pasien sama pentingnya dengan pasien itu sendiri. Tekanan mental yang dialami pendamping kerap tidak kalah berat. Karena itu, rumah singgah mewajibkan setiap pasien datang bersama satu pendamping.

Siti pun kerap ikut mendampingi. Ia bahkan memilih tidur di rumah singgah agar bisa dihubungi kapan saja. “Kalau tengah malam butuh apa pun, silakan panggil,” katanya. Selain relawan, rumah singgah juga dibantu dokter yang bersedia memberikan konsultasi secara daring. Dalam kondisi darurat, relawan ambulans di Samarinda turut membantu mengantar pasien ke rumah sakit.

Pernah suatu waktu, kondisi kesadaran seorang pasien menurun. Lewat panggilan video, dokter membimbing langkah pertolongan pertama hingga ambulans datang. Bagi Siti, semua bantuan itu menjadi bukti bahwa kemanusiaan masih hidup.

Baca Juga: Hipertensi Jadi Penyakit Terbanyak di Kaltim, Ini Tips Dokter Agar Pasien Tidak Semakin Kronis

Saat ini, Rumah Singgah Kanker Etam masih berstatus kontrakan. Pemilik rumah memberikan kelonggaran saat pembayaran terlambat. Namun, Siti menyimpan harapan besar: memiliki rumah singgah permanen dan kendaraan operasional sendiri. “Kami sangat butuh kendaraan untuk antar-jemput pasien,” ujarnya.

Bagi Siti, rumah singgah ini juga menjadi sumber kekuatan pribadi. Ia mengaku kini dalam kondisi sehat, dan melihat para pasien tetap berjuang membuatnya terus bertahan. “Saya senang bisa bermanfaat,” katanya.

Rumah Singgah Kanker Etam berdiri bukan sebagai panti, bukan pula tempat penitipan. Ia hadir sebagai ruang persinggahan—agar mereka yang datang dari jauh tidak harus tinggal di sembarang tempat, dengan segala keterbatasan ekonomi dan fisik. “Karena saya pernah merasakan,” kata Siti. Dari pengalaman itulah, sebuah rumah singgah di Samarinda menjadi tempat pulang sementara bagi para pejuang kanker. (*/riz)

 

Editor : Muhammad Rizki
#rumah singgah kanker #penyintas kanker #samarinda