Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mengenal Kepala BI Kaltim Jajang Hermawan, Siap Menghadirkan Akselerasi Ekonomi

Raden Roro Mira Budi Asih • Minggu, 15 Februari 2026 | 08:27 WIB
PERJALANAN: Jajang berkarir hampir 28 tahun di Bank Indonesia. Promosi luar daerah pertama yakni di Banten, lalu menjadi Kepala KPw BI Cirebon hingga Kaltim sebagai pelabuhan berikutnya.
PERJALANAN: Jajang berkarir hampir 28 tahun di Bank Indonesia. Promosi luar daerah pertama yakni di Banten, lalu menjadi Kepala KPw BI Cirebon hingga Kaltim sebagai pelabuhan berikutnya.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Bagi sebagian orang promosi jabatan hanyalah soal naik tangga karier. Tapi bagi Jajang Hermawan, amanah memimpin Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kalimantan Timur bukan sekadar kenaikan posisi.

Ia datang bersamaan dengan perubahan besar Kaltim dengan Ibu Kota Nusantara (IKN). Dan barangkali juga sebuah bab penting perjalanan ekonomi daerah. Sejak dikukuhkan pada 26 Januari lalu, Jajang menyebut satu kata yang terus bergaung di kepalanya. Akselerasi.

“Ini adalah sebuah kehormatan sekaligus tantangan besar. Memimpin Bank Indonesia di Kaltim saat ini bukan sekadar penugasan wilayah, tetapi saya kira ini adalah sebuah penugasan sejarah,” ujar Jajang saat ditemui di ruang kerjanya baru-baru ini.

Lahir di Kuningan, Jawa Barat, Jajang tumbuh dengan imajinasi sederhana tentang dunia perbankan. Orangtuanya berprofesi sebagai guru, namun lingkungan keluarga mengenalkannya pada dunia bank sejak dini.

“Ada keponakan (kerja di bank), tapi secara usia lebih senior ya. Kalau dia cerita tentang perbankan luar biasa. Terus dari segi pakaian juga rapi, tempat kerjanya kantor-kantor gedung besar. Jadi sudah terbayang,” tuturnya lalu terkekeh pelan.

Ketertarikan itu berlanjut hingga bangku pendidikan. Jajang diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) pada era 1990-an.

Memilih jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, sebuah keputusan yang kelak membentuk cara pandangnya melihat ekonomi sebagai sistem yang hidup, bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Selepas lulus, dia sempat bekerja di salah satu bank swasta di Bandung. Namun panggilan Bank Indonesia datang tiga bulan kemudian. “Terus ada panggilan seleksi karena memang mendaftar juga sebelumnya. Prosesnya hampir setahun,” katanya.

Pada 1997 dia masuk pendidikan di Bank Indonesia, diangkat sebagai pegawai pada 1998. Sehingga sudah hampir 28 tahun kariernya di Bank Indonesia. Sebagian besar dia lewati di kantor pusat.

Lalu pada 2023 Jajang mendapat amanah sebagai Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten. Setahun kemudian, Januari 2025, dipercaya memimpin KPw BI Cirebon. Genap setahun kepemimpinan di Cirebon, pada Januari 2026, Bumi Etam menjadi pelabuhan berikutnya.

“Yang pertama kali diucapkan Alhamdulillahi rabbil alamin” ujarnya kemudian tersenyum. Kaltim, bagi Jajang, bukan wilayah asing.

Ingatan masa sekolah tentang kerajaan Kutai Kartanegara dan industri tambang melekat kuat. Ditambah pengalaman kunjungan dinas ke Samarinda dan Tenggarong saat masih bertugas di Jakarta.

Makna penugasan dia refleksikan secara pribadi dan profesional. “Saat pertama kali menerima amanah ini, satu kata yang terlintas adalah harus mengakselerasi. Karena Kaltim saat ini sedang mengalami fase transformasi ekonomi yang sangat cepat,” ujar Jajang. Kehadiran IKN menjadikan Kaltim beranda negara, pusat gravitasi ekonomi baru Indonesia.

Pengalaman memimpin KPw BI Cirebon memberi bekal penting. Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) yang menjadi wilayah kerja kala itu, Jajang menekankan pemetaan kawasan.

Prinsip itu kini dia terapkan di Kaltim yang wilayah kerjanya mencakup tujuh daerah yakni Samarinda, Bontang, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan Berau.

“Di Kaltim ini wilayah kerja kami mencakup tujuh daerah yang sangat beragam. Mulai dari pusat jasa di Samarinda, industri di Bontang, sentra wisata di Berau, hingga daerah hinterland dan perbatasan seperti Kutai Barat, Kutai Timur, dan Mahakam Ulu serta Kutai Kartanegara sebagai mitra IKN,” jelasnya.

Tantangannya adalah meramu kebijakan inklusif. Pelajaran dari Ciayumajakuning, kata Jajang, adalah sinergi kawasan. Menghubungkan daerah hulu penghasil dengan hilir secara lancar. Dia juga menekankan orkestrasi kebijakan bersama KPw BI Balikpapan agar seluruh Kaltim bergerak harmonis. Ke depan, harapannya jelas.

“Pertumbuhan yang berkualitas dan berdaya saing didukung dengan stabilitas makro dan ekosistem keuangan yang sehat,” ujarnya. Dia ingin ekonomi Kaltim tumbuh melalui hilirisasi, produktivitas dan sektor penggerak baru.

Kepada generasi muda Kaltim yang menekuni ekonomi dan kebijakan publik, Jajang menitip pesan. “Pegang integritas dan independensi berpikir. Karena stabilitas itu dibangun dari kepercayaan,” katanya.

Dia juga menekankan pentingnya data dan empati lapangan. “Datang ke pasar, dengar cerita pedagang dan pembeli, pahami tantangan petani dan nelayan. Dari situ data akan punya ruh” ujarnya.

Dan terakhir, dia mengingatkan bahwa kebijakan tak akan berdampak tanpa kolaborasi. “Dalam dunia kebijakan, gagasan yang baik harus bisa dipahami publik dan dapat dieksekusi bersama,” tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#akselerasi ekonomi #Sosok #bank indonesia #Jajang Hermawan #kepala bi kaltim #kalimantan timur #perubahan besar #Mengenal