KALTIMPOST.ID,TEHERAN-Angin segar berembus dari Timur Tengah menjelang putaran kedua perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Pemerintah Iran secara terbuka mulai menawarkan kesepakatan yang diklaim bakal memberikan keuntungan ekonomi timbal balik.
Sebuah langkah pragmatis untuk memecah kebuntuan diplomatik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Diplomat senior Iran mengungkapkan pada Minggu (15/2), bahwa Teheran sedang mengupayakan pakta baru yang lebih kokoh dibandingkan kesepakatan 2015.
Fokus utama dalam negosiasi kali ini bukan sekadar pembatasan nuklir, melainkan integrasi kepentingan ekonomi yang saling menguntungkan.
Wakil Direktur Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Iran, Hamid Ghanbari, menegaskan bahwa keberlanjutan sebuah perjanjian sangat bergantung pada manfaat yang didapat oleh kedua belah pihak. Menurutnya, kegagalan pakta nuklir masa lalu disebabkan oleh kurangnya keterlibatan kepentingan ekonomi AS di dalam Iran.
Baca Juga: Mal Ciputra Cibubur Bekasi Dilalap Api, Asap Hitam Sempat Tutupi Area Pusat Perbelanjaan
"Sangat krusial bagi AS untuk turut merasakan keuntungan di sektor dengan pengembalian ekonomi yang tinggi dan cepat," ujar Ghanbari sebagaimana dikutip dari kantor berita Fars.
Ia membeberkan sejumlah sektor strategis yang kini masuk dalam meja perundingan, di antaranya sektor migas berupa kerja sama pengelolaan ladang minyak dan gas bersama. Pertambangan melalui peluang investasi langsung pada kekayaan mineral Iran. Penerbangan, potensi pembelian armada pesawat sipil dalam jumlah besar dari manufaktur AS.
AS Siaga Dua Jalur: Diplomasi dan Militer
Di sisi lain, Washington menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam konferensi pers di Bratislava menyatakan bahwa Presiden Donald Trump tetap mengutamakan jalur negosiasi, meski tetap menyiapkan skenario terburuk.
Baca Juga: BI Kaltim Siapkan Rp 2,18 Triliun untuk Kebutuhan Ramadan dan Idulfitri 2026
"Belum ada yang pernah benar-benar berhasil mengunci kesepakatan dengan Iran, tetapi kami akan mencobanya kembali," tegas Rubio.
Pernyataan Rubio ini muncul di tengah laporan bahwa AS telah menyiagakan kapal induk kedua di wilayah Timur Tengah sebagai langkah antisipasi jika jalur diplomasi menemui jalan buntu.
Pertemuan Krusial di Jenewa
Momen penentu dijadwalkan terjadi pada Selasa (17/2) di Jenewa, Swiss. Delegasi papan atas AS yang mencakup utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu dengan pejabat senior Iran. Pertemuan ini bersifat bilateral dengan Oman sebagai mediator utama.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, dilaporkan telah bertolak ke Jenewa untuk memimpin dialog tidak langsung ini. Selain bertemu delegasi AS, Araqchi juga dijadwalkan bertemu dengan pimpinan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Baca Juga: Prediksi Wolves vs Arsenal : Berikut 5 Kenangan Manis The Gunners di Molineux
Sinyal Kompromi Pengayaan Uranium
Sebagai bentuk fleksibilitas, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, mengisyaratkan kesiapan Teheran untuk mengurangi level pengayaan uranium yang paling tinggi. Syaratnya tetap satu yaitu pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini menjerat Teheran.
"Bola kini ada di tangan Amerika untuk membuktikan keseriusan mereka dalam mencapai kesepakatan," tutur Ravanchi kepada BBC.
Meski siap berkompromi pada level pengayaan, Iran tetap bersikeras menolak syarat "nol pengayaan". Mereka menegaskan bahwa program nuklirnya murni untuk keperluan energi dan damai, meskipun klaim ini terus dipantau ketat oleh intelijen barat.(*)
Editor : Dwi Puspitarini