KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada penutupan tahun 2025 tercatat mengalami kenaikan.
Berdasarkan data terbaru Bank Indonesia (BI), total beban utang luar negeri mencapai US$ 431,7 miliar, meningkat dibandingkan posisi akhir 2024 yang bertengger di angka US$ 425,11 miliar.
Terdapat dinamika yang menarik dalam komposisi utang tahun ini. Beban utang sektor publik mengalami lonjakan, sementara sektor swasta justru menunjukkan tren penurunan.
Tercatat, ULN pemerintah melonjak menjadi US$ 214,3 miliar dari sebelumnya US$ 203,1 miliar pada tahun 2024.
Sementara untuk ULN swasta tercatat mengalami penyusutan ke angka US$ 192,8 miliar, lebih rendah dari catatan tahun sebelumnya yang sebesar US$ 194,4 miliar.
Dalam siaran persnya dikutip Senin (23/2/2026), Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa kondisi utang nasional masih dalam batas aman.
Hal ini didukung oleh rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang terjaga di level 29,9% pada kuartal IV-2025.
Selain itu, struktur utang didominasi oleh pinjaman jangka panjang dengan porsi mencapai 85,7%.
Peta Pemberi Pinjaman Utama
Masih dalam siaran pers itu jika dilihat dari sumbernya, mayoritas modal asing ini berasal dari pinjaman bilateral antarnegara dengan total US$ 205,97 miliar.
Berikut adalah daftar negara dan organisasi internasional penyokong utama ULN Indonesia.
Baca Juga: Terdesak Utang, Seorang Ibu Nekat Bakar Toko Emas di Makassar demi Gondol Perhiasan Rp 2 Miliar
Daftar negara kreditur terbesar (per akhir 2025), yaitu Singapura US$ 55,09 miliar, Amerika Serikat US$ 27,30 miliar, Tiongkok US$ 23,73 miliar, Jepang US$ 20,28 miliar, Hong Kong US$ 19,20 miliar.
Sementara itu, untuk kategori lembaga keuangan internasional, World Bank (IBRD) masih menjadi mitra terbesar dengan kucuran dana US$ 22,09 miliar, disusul oleh Asian Development Bank (ADB) senilai US$ 12,65 miliar, dan IMF sebesar US$ 8,82 miliar.(*)
Editor : Dwi Puspitarini