Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa tokoh tertinggi Republik Islam Iran tersebut telah meninggal dunia.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut kematian Khamenei sebagai momen penting yang dinilai dapat membuka peluang perubahan politik besar di Iran. Ia bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai kesempatan bagi rakyat Iran untuk “merebut kembali” negara mereka.
Klaim itu muncul setelah sebelumnya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengungkap adanya serangan gabungan yang disebut menargetkan lokasi penting di Teheran, termasuk kantor pemimpin tertinggi Iran. Sejumlah pejabat Israel juga mengklaim terdapat indikasi kuat bahwa Khamenei menjadi korban dalam operasi militer tersebut.
Selain soal kematian Khamenei, Trump turut menyatakan adanya keretakan di internal aparat keamanan Iran. Ia mengklaim sebagian anggota Garda Revolusi Iran (IRGC) serta unsur militer lainnya mulai enggan melanjutkan konflik dan disebut mencari perlindungan.
Namun hingga berita ini diturunkan, pemerintah Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai kondisi pemimpin tertingginya maupun tudingan soal gelombang pembelotan aparat keamanan.
Media pemerintah Iran justru melaporkan bahwa Khamenei masih memimpin situasi perang dan tetap berada dalam kendali.
Perbedaan informasi dari berbagai pihak membuat situasi semakin simpang siur. Sejumlah kantor berita Iran menepis kabar kematian tersebut, sementara pejabat Israel tetap bersikeras bahwa operasi militer terbaru telah menimbulkan kerugian besar bagi kepemimpinan Iran.
Ketegangan meningkat sejak serangan militer yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel mengguncang beberapa wilayah Iran pada akhir Februari.
Teheran sebelumnya telah memperingatkan akan memberikan balasan keras terhadap setiap serangan yang dianggap mengancam kedaulatan negara mereka.
Hingga kini, komunitas internasional masih menunggu kepastian resmi terkait nasib pemimpin tertinggi Iran di tengah eskalasi konflik yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah.
Editor : Uways Alqadrie