KALTIMPOST.ID, JAKARTA-Dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Ia mendesak kedua negara tersebut untuk segera menghentikan aksi militer di wilayah Iran yang dinilainya sebagai bentuk agresi tanpa provokasi yang melanggar Piagam PBB.
Nebenzia memperingatkan bahwa serangan udara tersebut telah memicu eskalasi berbahaya yang berpotensi meluas ke luar perbatasan Iran.
Ia menekankan beberapa risiko krusial akibat konflik ini. Krisis kemanusiaan dan ekonomi, dampak langsung serangan diprediksi akan mengganggu stabilitas finansial dan sosial di kawasan Timur Tengah.
Ancaman keamanan nuklir karena ketegangan di sekitar fasilitas Iran menimbulkan kekhawatiran serius terkait risiko kebocoran radiologis.
Rusia secara khusus meminta Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, untuk memberikan pernyataan tegas dan mengecam agresi tersebut.
Baca Juga: PBB Kecam Agresi AS-Israel, Diplomasi Nuklir Berada di Ambang Kehancuran
Tawaran Diplomasi Moskow
Meskipun situasi memanas, Rusia menyatakan kesiapannya untuk menjadi mediator. Nebenzia menegaskan bahwa Moskow mengedepankan solusi politik yang berbasis pada hukum internasional dan keseimbangan kepentingan antardua belah pihak.
Selain itu, ia memastikan bahwa prioritas utama Rusia saat ini adalah memastikan keselamatan seluruh warga negaranya yang berada di Iran dengan mengambil langkah-langkah perlindungan yang diperlukan.
Kronologi Singkat: Gugurnya Ali Khamenei
Agresi yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) ini menyasar pusat pemerintahan di Teheran, mengakibatkan kerusakan infrastruktur serta menelan korban jiwa dari kalangan sipil.
Insiden paling fatal adalah gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, akibat hantaman rudal di kantornya.
Baca Juga: Kekosongan Kekuasaan di Iran, Dewan Trilateral Ambil Alih Tugas Pemimpin Tertinggi
Sebagai aksi balasan, militer Iran meluncurkan rentetan rudal ke instalasi militer AS dan wilayah Israel.
Di tengah duka nasional Iran yang menetapkan 40 hari masa berkabung, Presiden AS Donald Trump justru mengeluarkan komentar kontroversial yang menyebut bahwa negosiasi dengan Iran kini akan menjadi jauh lebih mudah.(*)
Editor : Almasrifah