Namun kawasan yang memiliki nilai spiritual tinggi tersebut kini tengah menjadi bagian dari proyek pengembangan pariwisata besar-besaran oleh pemerintah Mesir.
Melalui program bertajuk Great Transfiguration Project, area di sekitar Gunung Sinai direncanakan berubah menjadi destinasi wisata kelas dunia.
Proyek bernilai miliaran dolar itu mencakup pembangunan hotel mewah, vila eksklusif, restoran, pusat perbelanjaan, hingga kereta gantung yang menghubungkan beberapa titik di kawasan pegunungan. Selain itu, fasilitas bandara di sekitar lokasi juga tengah diperluas guna mendukung lonjakan wisatawan internasional.
Pemerintah Mesir menyebut proyek tersebut sebagai bagian dari visi Presiden Abdel Fattah El-Sisi untuk meningkatkan sektor pariwisata sekaligus memperkenalkan warisan sejarah dan religius Sinai kepada dunia.
Gunung Sinai sendiri memiliki banyak rujukan dalam Al-Qur’an. Dalam kitab suci umat Islam itu, gunung tersebut disebut dengan beberapa nama seperti Ṭūr Sīnā, Ṭūr Sīnīn, dan aṭ-Ṭūr. Dalam tradisi keagamaan, tempat ini diyakini sebagai lokasi Nabi Musa berbicara dengan Tuhan.
Di kawasan ini juga berdiri Biara St. Catherine, yang dibangun sejak abad ke-6 dan dikenal sebagai salah satu biara Kristen tertua yang masih aktif hingga sekarang. Kompleks tersebut bersama Gunung Sinai telah masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO.
Meski dipromosikan sebagai proyek prestisius, pembangunan tersebut menuai kritik dari berbagai pihak. Sejumlah kelompok masyarakat dan pemerhati budaya khawatir pembangunan besar-besaran justru mengancam nilai spiritual serta keaslian kawasan tersebut.
Laporan media internasional menyebutkan sebagian fasilitas wisata milik warga lokal telah dibongkar untuk memberi ruang bagi pembangunan baru. Bahkan beberapa keluarga dari komunitas Bedouin Jebeleya dilaporkan harus memindahkan makam kerabat mereka karena area tersebut akan dijadikan lahan parkir.
Penulis perjalanan asal Inggris yang lama bekerja bersama komunitas Bedouin di Sinai, Ben Hoffler, menilai proyek itu lebih banyak ditentukan oleh pemerintah tanpa melibatkan masyarakat lokal secara memadai.
Menurutnya, perubahan besar yang terjadi dapat mengubah kehidupan komunitas nomaden yang sejak lama menetap di wilayah tersebut.
Sementara itu, organisasi pelestarian budaya World Heritage Watch juga meminta UNESCO memberikan perhatian serius terhadap proyek pembangunan di kawasan Gunung Sinai.
Baca Juga: Trump Semprot Sekutu, Spanyol Disebut ‘Pecundang’, PM Inggris Dianggap Mengecewakan
Mereka menilai ketenangan dan keterpencilan wilayah tersebut merupakan bagian penting dari nilai warisan dunia yang harus dilindungi.
Sekitar 4.000 orang saat ini tinggal di kawasan pegunungan Sinai. Meski sebagian masyarakat berharap pembangunan bisa meningkatkan ekonomi, tidak sedikit pula yang khawatir proyek tersebut justru menghilangkan aura kesakralan yang selama ini menjadi daya tarik utama Gunung Sinai.
Editor : Uways Alqadrie