KALTIMPOST.ID,BRASIL-Sebuah fenomena alam yang menentang logika biologi sedang menjadi fokus penelitian para ilmuwan di Brasil.
Kawanan kambing di Pulau Santa Barbara, sebuah daratan vulkanik terpencil di Kepulauan Abrolhos, tercatat mampu bertahan hidup dan berkembang biak selama lebih dari dua abad tanpa adanya sumber air tawar alami.
Pulau yang terletak sekitar 70 kilometer dari lepas pantai Bahia ini dikenal kering, berangin, dan gersang.
Secara historis, hewan-hewan ini diduga ditinggalkan oleh para penjajah berabad-abad silam sebagai cadangan logistik yang kemudian terlupakan.
Selama 250 tahun, kawanan ini terisolasi dari dunia luar tanpa setetes pun air bersih untuk diminum.
Meski hidup di bawah tekanan lingkungan yang ekstrem, populasi kambing ini justru tumbuh subur. Namun, demi menjaga keseimbangan ekosistem taman nasional, otoritas setempat (Instituto Chico Mendes) baru-baru ini mengevakuasi 27 ekor kambing terakhir dari pulau tersebut.
Keberadaan mereka dianggap mulai mengancam habitat tujuh spesies burung laut yang bersarang di sana.
Baca Juga: Pantau Mudik Lebaran Kaltim: BBPJN Operasikan Command Center, Total 114 CCTV Real Time
Adaptasi Ekstrem: Minum Air Laut atau Tanaman?
Kepala Taman Laut Nasional Abrolhos, Erismar Rocha, mengungkapkan kekagumannya terhadap kemampuan adaptasi hewan ini. Selama bertahun-tahun observasi, tim peneliti mengaku tidak pernah melihat satu pun kambing yang minum air.
"Kami yakin mereka telah mengembangkan mekanisme bertahan hidup yang luar biasa," ujar Rocha, sebagaimana dilansir dari Oddity Central (8/3).
Sejumlah hipotesis pun muncul. Sebagian ilmuwan menduga kambing-kambing tersebut telah beradaptasi untuk mengonsumsi air laut.
Teori lain menyebutkan bahwa mereka mendapatkan pasokan cairan dari tanaman lokal bernama Beldroega, sejenis tumbuhan sukulen yang memiliki kadar air tinggi.
Baca Juga: Kapan THR 2026 Cair? Pemerintah Tetapkan Batas Maksimal H-7 Sebelum Lebaran
Luar biasanya lagi, kesehatan kawanan ini tergolong sangat baik. Peneliti menemukan banyak kasus kelahiran kembar, sebuah indikator bahwa mereka tidak hanya sekadar bertahan hidup, tetapi mendapatkan nutrisi yang cukup dari lingkungan yang dianggap mematikan bagi mamalia lain.
Harapan Baru untuk Ternak Tahan Iklim
Kini, kambing-kambing yang dievakuasi tersebut menjadi subjek penelitian penting. Para ilmuwan berharap dapat membedah rahasia genetik dan biologis di balik ketahanan ekstrem tersebut.
Hasil studi ini diharapkan menjadi solusi masa depan dalam mengembangkan ras ternak yang tahan terhadap kekeringan ekstrem dan perubahan iklim, khususnya untuk membantu peternak di wilayah gersang seperti Brasil Timur Laut maupun daerah lain di dunia yang mulai terdampak pemanasan global. (*)
Editor : Dwi Puspitarini