Dalam wawancara dengan media internasional, Araghchi mengatakan Iran telah dua kali merasa dikhianati oleh Amerika Serikat ketika proses negosiasi sedang berlangsung. Karena itu, menurutnya, dialog baru dengan pihak Amerika saat ini tidak lagi masuk dalam agenda diplomasi Iran.
Pernyataan tersebut merujuk pada konflik yang terjadi pada 2025 ketika Iran dan Israel terlibat perang singkat selama hampir dua pekan. Pada saat itu, Teheran sebenarnya tengah menjalani pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Namun, situasi berubah setelah serangan militer yang melibatkan Israel dan Amerika menghantam sejumlah fasilitas strategis Iran, termasuk lokasi yang berkaitan dengan program nuklir negara tersebut.
Ketegangan kembali meningkat setelah pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan militer yang dikaitkan dengan operasi Israel dan Amerika Serikat. Setelah peristiwa tersebut, Iran menunjuk putra mendiang Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru negara itu.
Araghchi menolak memberikan banyak komentar mengenai kemungkinan sikap Mojtaba terhadap upaya diplomasi atau gencatan senjata. Ia hanya menyebut masih terlalu awal bagi pemimpin baru Iran untuk menyampaikan posisi resmi terkait hal tersebut.
Di sisi lain, Iran juga menanggapi isu terkait meningkatnya harga energi global akibat ketegangan di kawasan Teluk. Araghchi menilai lonjakan harga minyak terjadi karena aksi militer Israel dan Amerika Serikat yang memperburuk keamanan kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, situasi yang tidak stabil membuat banyak kapal tanker dan kapal dagang enggan melintasi jalur penting seperti Strait of Hormuz. Meski begitu, Iran menegaskan tidak pernah menutup jalur pelayaran tersebut.
Ia menambahkan, Iran sejak awal telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayahnya akan dibalas dengan menargetkan kepentingan lawan di kawasan. Araghchi menegaskan langkah yang diambil Teheran merupakan bentuk pertahanan diri atas tindakan agresi yang dianggap melanggar hukum internasional.
Menurutnya, jika konflik terus meluas di kawasan Timur Tengah, Iran tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Pemerintah Iran menilai eskalasi konflik terjadi akibat tekanan militer yang dilakukan pihak lawan terhadap negaranya.
Editor : Uways Alqadrie