Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Gedung Putih 'Warning' Rusia, Jangan Berbagi Data Intelijen dengan Iran!

Ari Arief • Rabu, 11 Maret 2026 | 14:01 WIB

Ilustrasi perang koalisi AS-Israel vs Iran.
Ilustrasi perang koalisi AS-Israel vs Iran.

KALTIMPOST.ID, WASHINGTON-Eskalasi konflik di Timur Tengah kini menyeret hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia ke titik nadir.

Gedung Putih secara terbuka melayangkan peringatan keras kepada Moskow agar tidak ikut campur dengan membagikan informasi intelijen sensitif kepada Iran.

Langkah ini diambil menyusul laporan dari Washington Post yang menyebut adanya dugaan bocoran data dari Rusia kepada Teheran.

Data tersebut disinyalir mencakup koordinat akurat posisi kapal perang hingga pergerakan pesawat tempur AS yang tengah beroperasi di zona konflik.

Pesan Tegas Donald Trump

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Presiden Donald Trump tidak akan tinggal diam jika Moskow terbukti membantu Teheran secara militer maupun intelijen.

Baca Juga: Analisis Media AS: Iran Pimpin Keunggulan Strategis, Pertahanan Udara Paman Sam Mulai 'Goyah'

"Presiden dan utusan khususnya (Steve Witkoff) telah mengirimkan pesan sangat jelas kepada Rusia. Jika hal itu benar-benar terjadi, itu adalah sesuatu yang tidak bisa kami terima. Kami sangat berharap Rusia tidak melangkah sejauh itu," ujar Leavitt dalam konferensi pers, Rabu (11/3), sebagaimana dikutip dari AFP.

Diplomasi di Tengah Ketidakpastian

Meski peringatan telah dilontarkan, Steve Witkoff selaku utusan khusus AS yang memimpin negosiasi, mencoba mendinginkan suasana.

Ia menyatakan bahwa pihak Rusia secara resmi telah membantah tuduhan tersebut dalam komunikasi langsung dengan Presiden Trump.

"Dalam panggilan telepon kemarin, pihak Rusia menegaskan bahwa mereka tidak berbagi informasi intelijen dengan Iran.

Untuk saat ini, kami memegang kata-kata mereka," ungkap Witkoff saat diwawancarai CNBC International.

Baca Juga: Praperadilan Ditolak, Status Tersangka Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas Dinyatakan Sah

Witkoff menambahkan bahwa langkah mempercayai bantahan Moskow tersebut diambil demi mencegah meluasnya cakupan perang yang saat ini sudah sangat panas.

Aliansi "Ancaman Bersama"

Di sisi lain, Rusia sendiri masih enggan memberikan detail mengenai peringatan yang dikirimkan AS. Sebagai sekutu strategis, Moskow dan Teheran telah menandatangani kesepakatan tahun lalu untuk saling bahu-membahu dalam menghadapi apa yang mereka sebut sebagai "ancaman bersama".

Keterlibatan intelijen Rusia, jika terbukti, dianggap sebagai ancaman langsung bagi keselamatan personel militer AS di lapangan.

Situasi ini menempatkan dunia pada posisi waspada, mengingat kedua negara pemegang senjata nuklir tersebut kini berdiri di sisi yang berseberangan dalam palagan Timur Tengah.(*)

Editor : Almasrifah
#moskow #gedung putih #Teheran #donald trump