KALTIMPOST.ID-Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA UB) Kaltim mendorong generasi muda untuk lebih aktif terlibat dalam pengembangan agribisnis kelapa sawit yang berkelanjutan dan inovatif.
Hal tersebut disampaikan dalam diskusi daring bertajuk Ramadhan Talk 2: Pengembangan Agribisnis Sawit Ramah Lingkungan bagi Generasi Muda Menghadapi Era Global, Senin (16/3).
Diskusi tersebut menghadirkan Direktur Politeknik Pertanian (Politani) Samarinda Hamka serta Senior Estate Manager PT Teladan Prima Agro Tbk Giusty Surya Adyatama. Kegiatan dipandu oleh moderator dari Universitas Mulawarman, Panggulu AR Utoro.
Mewakili pimpinan IKA UB Kaltim, Putra Peni Luhur Wibowo menegaskan sektor kelapa sawit memiliki peran strategis tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dalam agenda lingkungan global.
Menurutnya, pengelolaan sawit yang tepat bisa berkontribusi terhadap penyerapan emisi karbon sekaligus mendukung mitigasi perubahan iklim.
“Industri sawit tidak hanya dilihat dari sisi ekonomi. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, sawit juga berperan dalam penyediaan oksigen dan penyerapan emisi karbon,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut juga disoroti pentingnya regenerasi pelaku agribisnis di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
Moderator Panggulu AR Utoro menilai, agribisnis masa depan merupakan sektor yang berbasis teknologi dan inovasi sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan muda.
Ia menegaskan, generasi muda perlu melihat sektor sawit sebagai ruang inovasi, mulai pengelolaan emisi karbon hingga pengembangan produk turunan bernilai tambah.
Tanpa keterlibatan generasi terdidik, potensi besar sektor itu dikhawatirkan tidak dapat berkembang secara optimal.
Sementara itu, Giusty Surya Adyatama menekankan pentingnya penerapan praktik perkebunan berkelanjutan melalui Good Agricultural Practices (GAP) untuk menjawab tuntutan pasar global.
Menurutnya, aspek lingkungan kini menjadi faktor utama dalam menjaga daya saing industri sawit di tingkat internasional.
“Efisiensi pengelolaan kebun yang memerhatikan aspek lingkungan bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong transformasi digital di sektor ini,” jelasnya.
Transformasi tersebut, lanjutnya, mencakup pemanfaatan teknologi dalam pemantauan lahan, pengelolaan produksi, hingga optimalisasi rantai pasok yang lebih transparan dan ramah lingkungan.
Selain aspek budidaya, diskusi juga mengulas potensi hilirisasi produk sawit, salah satunya melalui pengembangan minyak makan merah (MMM).
Hamka menjelaskan, MMM merupakan produk turunan sawit yang kaya nutrisi karena tidak melalui proses pemucatan seperti minyak goreng pada umumnya.
Menurutnya, MMM mengandung vitamin A, vitamin E, dan senyawa penting lainnya yang bermanfaat bagi kesehatan.
Di sisi lain, proses produksinya relatif sederhana. Sehingga bisa dikembangkan oleh koperasi maupun usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
“Minyak makan merah bukan hanya solusi kesehatan, tetapi juga peluang ekonomi. Itu bisa menjadi bagian dari upaya kemandirian pangan lokal dengan harga yang terjangkau,” ujarnya.
Sekretaris IKA UB Kaltim Ahmad Busri menyampaikan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari kontribusi organisasi dalam memberikan edukasi dan pemikiran strategis kepada masyarakat, khususnya di Kaltim sebagai salah satu daerah sentra sawit nasional.
Melalui diskusi ini, IKA UB Kaltim berharap generasi muda bisa melihat sektor agribisnis sawit tidak hanya sebagai komoditas mentah, tetapi sebagai industri masa depan yang inovatif, berkelanjutan, dan memiliki nilai tambah tinggi. (rd)
Editor : Romdani.