Lonjakan harga tak lepas dari kekhawatiran terganggunya distribusi minyak dunia, khususnya di Selat Hormuz. Jalur strategis ini dikenal sebagai pintu utama bagi hampir seperlima pasokan minyak global. Ancaman penutupan jalur tersebut langsung memicu kepanikan pasar.
Analis dari Deutsche Bank, Jim Reid, menilai situasi yang berkembang membuat gangguan pasokan berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan. Ketidakpastian ini menjadi faktor utama yang mendorong harga terus merangkak naik.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, harga minyak Brent tercatat di kisaran USD112 per barel. Dampaknya mulai terasa di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, di mana harga bensin ikut melonjak signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Memanasnya konflik sejak akhir Februari 2026 turut memperparah kondisi. Korps Pengawal Revolusi Islam Iran dikabarkan memberi sinyal keras terkait potensi pembatasan jalur pelayaran di kawasan tersebut, terutama bagi pihak yang dianggap terlibat dalam konflik.
Situasi ini membuat pasar energi global berada dalam tekanan tinggi. Jika ketegangan terus berlanjut, bukan tak mungkin harga minyak akan kembali menanjak dan berdampak luas terhadap ekonomi dunia, termasuk inflasi dan biaya energi di berbagai negara.
Editor : Uways Alqadrie