Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Harga Minyak Brent Melejit Tertinggi Sejak 2022, Konflik Timur Tengah Picu Krisis Energi Global

Uways Alqadrie • Senin, 23 Maret 2026 | 10:53 WIB

Ilustrasi Tel Aviv yang hancur dihajar rudal balistik Iran.
Ilustrasi Tel Aviv yang hancur dihajar rudal balistik Iran.
KALTIMPOST.ID, JAKARTA - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga menembus level tertinggi sejak pertengahan 2022, dipicu eskalasi konflik yang kian meluas.

Lonjakan harga tak lepas dari kekhawatiran terganggunya distribusi minyak dunia, khususnya di Selat Hormuz. Jalur strategis ini dikenal sebagai pintu utama bagi hampir seperlima pasokan minyak global. Ancaman penutupan jalur tersebut langsung memicu kepanikan pasar.

Analis dari Deutsche Bank, Jim Reid, menilai situasi yang berkembang membuat gangguan pasokan berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan. Ketidakpastian ini menjadi faktor utama yang mendorong harga terus merangkak naik.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, harga minyak Brent tercatat di kisaran USD112 per barel. Dampaknya mulai terasa di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, di mana harga bensin ikut melonjak signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Memanasnya konflik sejak akhir Februari 2026 turut memperparah kondisi. Korps Pengawal Revolusi Islam Iran dikabarkan memberi sinyal keras terkait potensi pembatasan jalur pelayaran di kawasan tersebut, terutama bagi pihak yang dianggap terlibat dalam konflik.

Situasi ini membuat pasar energi global berada dalam tekanan tinggi. Jika ketegangan terus berlanjut, bukan tak mungkin harga minyak akan kembali menanjak dan berdampak luas terhadap ekonomi dunia, termasuk inflasi dan biaya energi di berbagai negara.

Editor : Uways Alqadrie
#selat hormuz #harga minyak bumi #harga minyak dunia #harga minyak brent #donald trump #perang Iran Amerika Serikat