Serangan yang terjadi pada Sabtu malam (21/3/2026) itu dilaporkan merusak sejumlah bangunan di Arad dan Dimona serta melukai ratusan warga sipil.
Situasi ini memicu kemarahan publik. Warga yang panik dan frustrasi meluapkan emosi kepada pemerintah, termasuk saat Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir meninjau lokasi terdampak.
Sejumlah warga bahkan berusaha menerobos pengamanan untuk menyampaikan protes secara langsung.
Di tengah tekanan tersebut, Ben-Gvir tetap meminta masyarakat bertahan dan tidak goyah menghadapi konflik.
Namun, reaksi keras terus bermunculan, termasuk dari seorang warga yang menyalahkan pemerintah dan membandingkan kepemimpinan saat ini dengan rezim Nazi di masa lalu.
Serangan ini disebut sebagai bagian dari eskalasi konflik hari ke-23 antara Israel, sekutunya, dan Iran.
Pemerintah kini mempertimbangkan langkah darurat, termasuk penyediaan bunker atau tempat perlindungan bawah tanah guna mengantisipasi serangan lanjutan.
Editor : Uways Alqadrie