KALTIMPOST.ID, TEHERAN – Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan negaranya tidak mencari perang dengan Amerika Serikat maupun Israel.
Namun Iran menegaskan akan tetap mempertahankan hak-haknya sebagai sebuah negara.
Dalam pesan tertulis yang dibacakan oleh televisi pemerintah pada 9 April, Khamenei mengatakan Iran tidak pernah berniat memulai konflik.
“Kami tidak mencari perang dan tidak menginginkannya,” kata Khamenei dalam pesan tersebut.
Meski demikian, ia menegaskan Iran tidak akan melepaskan hak-hak yang dianggap sah oleh negaranya.
Ia juga menyebut seluruh “front perlawanan” sebagai satu kesatuan, yang dipandang sebagai referensi terhadap sekutu Iran di kawasan, termasuk kelompok Hezbollah di Lebanon yang saat ini terlibat konflik dengan Israel.
Pernyataan itu muncul setelah Iran menyetujui gencatan senjata rapuh selama dua pekan dengan Amerika Serikat.
Kesepakatan ini berpotensi membuka jalan bagi perundingan damai setelah sebelumnya Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran.
Khamenei juga meminta rakyat Iran tetap menunjukkan dukungan di ruang publik meski gencatan senjata telah diumumkan.
“Jangan membayangkan bahwa turun ke jalan tidak lagi diperlukan,” ujarnya dalam pesan tersebut.
Ia menilai suara masyarakat di ruang publik akan berpengaruh terhadap hasil negosiasi yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban tewas sejak 2 Maret telah mencapai 1.888 orang, dengan lebih dari 6.000 orang lainnya mengalami luka-luka akibat konflik yang terus berlangsung di kawasan tersebut.
Sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ali Khamenei yang tewas pada awal perang 28 Februari, Mojtaba Khamenei belum terlihat muncul di hadapan publik. Pesan-pesannya sejauh ini disampaikan melalui pernyataan tertulis yang dibacakan oleh televisi pemerintah.
Pemerintah Iran menyatakan Khamenei saat ini masih dalam masa pemulihan setelah mengalami luka akibat serangan yang menewaskan ayahnya.
Editor : Thomas Priyandoko