Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Elektabilitas Anjlok ke 39 Persen, Trump Dikepung Desakan Pemakzulan

Uways Alqadrie • Senin, 13 April 2026 | 12:14 WIB
Donald Trump
Donald Trump

KALTIMPOST.ID, WASHINGTON - Tekanan politik terhadap Donald Trump kian meningkat di tengah memanasnya konflik dengan Iran. 

Situasi ini memicu gelombang kritik tajam dari kalangan oposisi, khususnya Partai Demokrat, yang mulai mendorong wacana pemakzulan terhadap presiden.

Pernyataan kontroversial Trump terkait ancaman terhadap Iran dinilai memperkeruh situasi. 

Baca Juga: Donald Trump Terancam Dimakzulkan? Dukungan Pemakzulan Tembus 52 Persen

Sejumlah senator Demokrat menilai ucapan tersebut berpotensi melanggar hukum internasional dan membahayakan stabilitas global. Desakan agar Kongres segera bersidang pun mulai bermunculan.

Salah satu suara keras datang dari Ed Markey yang menyebut kebijakan Trump sebagai tindakan berbahaya. Ia bahkan menilai langkah tersebut bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang. 

Senada, Andy Kim menilai Trump telah kehilangan legitimasi sebagai panglima tertinggi di tengah eskalasi konflik.

Tekanan tidak hanya datang dari Senat. Lebih dari 60 anggota DPR dari Partai Demokrat dilaporkan menyuarakan dukungan terhadap pemakzulan. Nama-nama seperti Alexandria Ocasio-Cortez, Ilhan Omar, Rashida Tlaib hingga Nancy Pelosi ikut mendorong langkah tersebut.

Selain itu, Sara Jacobs meminta pihak militer untuk tidak menjalankan perintah yang dinilai melanggar hukum. 

Ia menilai pernyataan Trump berpotensi memicu pelanggaran serius, bahkan mengarah pada tindakan yang dapat dikategorikan sebagai genosida.

Baca Juga: AS Tuduh China Pasok Rudal ke Iran, Trump Sebut Akan Ada Konsekuensi Besar

Kritik juga disampaikan Julie Johnson yang menyebut kebijakan Trump sebagai langkah sembrono dan membahayakan warga Amerika. 

Ia bahkan mendorong penggunaan Amandemen ke-25 untuk mencopot presiden dari jabatannya.

Sementara itu, Chris Murphy mengingatkan bahwa kebijakan Trump dapat menyeret Amerika Serikat ke konflik berkepanjangan yang sulit dimenangkan. 

Ia juga menyoroti dampak serius terhadap stabilitas ekonomi dan politik dalam negeri.

Di sisi lain, Joaquin Castro mendesak kabinet segera mengambil langkah konstitusional menyusul kondisi kepemimpinan yang dinilai semakin mengkhawatirkan.

Situasi geopolitik yang memanas juga mulai berdampak pada tingkat kepercayaan publik. 

Sejumlah survei terbaru menunjukkan penurunan tingkat persetujuan terhadap Trump, yang kini berada di kisaran 39 persen, turun dibandingkan sebelumnya sebelum konflik dengan Iran memuncak.

Kondisi ini memperlihatkan tekanan berlapis yang dihadapi Gedung Putih, mulai dari konflik luar negeri hingga dinamika politik domestik yang kian memanas.

Baca Juga: Simpang Siur Jadwal Libur Semester 2? Ini Link Download Kalender Pendidikan Resmi Kaltim 2025/2026!

Tekanan politik terhadap Donald Trump kian terasa seiring merosotnya tingkat kepercayaan publik. 

Survei terbaru menunjukkan elektabilitasnya turun menjadi 39 persen pada awal April, dari sebelumnya 42 persen pada akhir Februari, sebelum konflik dengan Iran memanas.

Tak hanya itu, mayoritas responden dalam survei tersebut juga disebut mulai mendukung opsi pemakzulan. Meski begitu, langkah politik tersebut masih menghadapi jalan terjal di Kongres Amerika Serikat.

Secara mekanisme, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memang hanya membutuhkan suara mayoritas sederhana untuk meloloskan pasal pemakzulan. 

Namun, Partai Demokrat saat ini belum memegang kendali penuh, sehingga peluang meloloskan proses tersebut masih terbatas.

Hambatan lebih besar justru berada di Senat. Untuk menjatuhkan presiden dari jabatannya, diperlukan dukungan dua pertiga anggota. Dengan dominasi Partai Republik, angka tersebut dinilai sulit tercapai dalam waktu dekat.

Baca Juga: Waspada! Lowongan Kerja IKN Palsu Marak di Medsos, Otorita: Itu Hoaks!

Pengalaman masa lalu menjadi cermin. Pada periode sebelumnya, Trump dua kali dimakzulkan oleh DPR, tetapi keduanya berakhir tanpa pemecatan setelah Senat menolak memberikan suara yang cukup. 

Salah satunya terkait peristiwa Serangan Capitol 6 Januari 2021 yang sempat mengguncang politik Amerika.

Kondisi ini dinilai mencerminkan polarisasi tajam di Washington. Pengamat politik menyebut keterbelahan antarpartai semakin dalam, sehingga keputusan-keputusan besar seperti pemakzulan kerap tersandera kepentingan politik.

Meski peluang pemakzulan dalam waktu dekat relatif kecil, tekanan terhadap Trump diperkirakan belum akan mereda. Partai Demokrat disebut mulai mengarahkan strategi jangka panjang dengan menargetkan pemilu 2026 untuk merebut kembali mayoritas di DPR.

Berikut kronologi peristiwa meningkatnya tekanan pemakzulan terhadap Donald Trump dalam konflik dengan Iran:

1. Konflik AS–Iran Memanas

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam, dipicu kebijakan dan langkah militer yang memperkeras posisi kedua negara.

Baca Juga: Viral Pemalakan di Tanah Abang! Preman Beraksi, Sopir Bajaj Dipalak Rp100 Ribu

2. Pernyataan Kontroversial Trump

Trump melontarkan pernyataan keras yang mengancam Iran, memicu reaksi luas karena dinilai berpotensi melanggar hukum internasional.

3. Kritik Keras dari Demokrat

Sejumlah tokoh Partai Demokrat mulai angkat suara. Ed Markey menyebut kebijakan tersebut sebagai potensi kejahatan perang, sementara Andy Kim menilai Trump kehilangan legitimasi sebagai panglima tertinggi.

4. Desakan Kongres Segera Bersidang

Gelombang tekanan meningkat dengan dorongan agar Kongres kembali bersidang guna membahas langkah pemakzulan.

5. Dukungan Luas di DPR

Lebih dari 60 anggota DPR dari Partai Demokrat, termasuk Alexandria Ocasio-Cortez dan Nancy Pelosi, menyatakan dukungan terhadap proses pemakzulan.

6. Muncul Opsi Amandemen ke-25

Beberapa anggota DPR seperti Julie Johnson mendorong penggunaan Amandemen ke-25 untuk mencopot presiden dari jabatannya.

7. Desakan ke Militer dan Kabinet

Sara Jacobs meminta militer menolak perintah ilegal, sementara Joaquin Castro mendesak kabinet bertindak secara konstitusional.

8. Peringatan Dampak Besar

Chris Murphy memperingatkan risiko konflik berkepanjangan dan dampak serius terhadap ekonomi serta stabilitas politik AS.

Baca Juga: Drama 14 Jam! Pembicaraan AS-Iran Berakhir Tanpa Kesepakatan, Selat Hormuz Jadi Rebutan

9. Popularitas Trump Menurun

Di tengah tekanan politik dan konflik, tingkat persetujuan publik terhadap Trump turun menjadi sekitar 39 persen.

10. Isu Pemakzulan Menguat

Kombinasi konflik luar negeri dan tekanan politik domestik membuat wacana pemakzulan terhadap Trump semakin menguat di Washington.

Editor : Uways Alqadrie
#pemakzulan Donald Trump #Motjaba Khamenei #presiden donald trump #iran #perang Iran Amerika Serikat