KALTIMPOST.ID, Hubungan internasional kembali memanas seiring meningkatnya tensi dalam konflik AS Iran.
Amerika Serikat (AS) baru saja melontarkan peringatan keras kepada Teheran di tengah upaya damai yang sedang diupayakan sejumlah pihak.
Washington menegaskan tidak akan ragu untuk kembali melancarkan operasi militer secara masif apabila Iran memutuskan untuk hengkang dari meja perundingan.
Baca Juga: Harga Emas Antam 17 April 2026 Turun Tipis ke Rp2,888 Juta per Gram, Buyback Tetap di Rp2,674 Juta
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam keterangannya yang dikutip dari News18, Kamis (16/4), memberikan ultimatum yang sangat serius terkait konflik AS Iran ini.
Meski saat ini status gencatan senjata masih berlaku, Hegseth memastikan bahwa seluruh jajaran militer Amerika Serikat tetap berada dalam kondisi siaga penuh dan siap bergerak kapan saja.
Langkah agresif ini diambil sebagai bentuk tekanan agar Teheran segera menyepakati poin-poin kesepakatan yang ada.
Baca Juga: Cek Faktanya! Benarkah Ada Kenaikan Gaji Pensiunan PNS di Tahun 2026?
Hegseth mengklaim bahwa intelijen Amerika terus memantau setiap pergerakan aset militer lawan, sehingga eskalasi konflik AS Iran bisa terjadi dalam hitungan jam jika situasi memburuk secara mendadak di lapangan.
Pesan Menohok Menhan AS Pete Hegseth
Menteri Pertahanan AS secara blak-blakan mengirimkan pesan langsung kepada pemimpin di Teheran untuk menunjukkan bahwa posisi Amerika saat ini jauh lebih kuat secara militer.
Hegseth menyatakan bahwa militer AS memiliki intelijen yang sangat akurat untuk memastikan tidak ada celah bagi Iran untuk melakukan manuver rahasia.
“Kami mengawasi Anda,” ujar Hegseth tegas, menegaskan bahwa AS memiliki kendali atas situasi saat ini.
Ia juga menambahkan posisi tawar Amerika Serikat dalam perundingan ini sangat dominan karena kekuatan industri dan blokade yang telah dilakukan.
Mengutip sumber News18, Hegseth menyampaikan pernyataan panjang sebagai peringatan terakhir:
“AS kini mempersenjatai diri dengan kekuatan lebih besar dari sebelumnya. Industri energi belum hancur sepenuhnya. Blokade AS menghentikan ekspor. Saya harap Anda memilih kesepakatan yang ada di depan mata,” kata Hegseth.
Dominasi di Selat Hormuz dan Peran Pakistan
Dalam pengakuannya yang cukup mengejutkan, Hegseth mengklaim bahwa saat ini Iran sudah tidak memiliki kekuatan laut yang berarti setelah serangkaian serangan dari pihak AS dan Israel.
Kondisi ini membuat AS merasa telah menguasai sepenuhnya lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dunia.
Blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pun dipastikan akan terus berlangsung dalam jangka waktu yang tidak ditentukan atau 'selama diperlukan'.
Di tengah ancaman perang yang mengintai, secercah harapan muncul lewat keterlibatan Pakistan sebagai mediator.
Delegasi tingkat tinggi yang dipimpin oleh Asim Munir dilaporkan telah mendarat di Teheran untuk berdiskusi dengan para pejabat Iran.
Gedung Putih merespons positif inisiatif ini dan bahkan membuka peluang agar pertemuan formal antara Washington dan Teheran bisa dilangsungkan di Islamabad dalam waktu dekat.
Ancaman Balasan Iran yang Mengincar Ekonomi Global
Namun, Iran tidak tinggal diam menerima tekanan tersebut dan langsung mengeluarkan ancaman balasan yang bisa berdampak pada dunia.
Pihak militer Teheran memperingatkan bahwa jika blokade Amerika terus berlanjut dan mencekik ekonomi mereka, mereka tidak akan ragu untuk meluaskan zona konflik hingga ke jalur perdagangan internasional lainnya yang lebih luas.
Kondisi ini membuat risiko krisis global meningkat drastis jika jalur-jalur strategis tersebut terganggu. Berikut adalah poin-poin ancaman yang disampaikan pihak Teheran:
Akan melakukan pemblokiran total jalur perdagangan di wilayah Laut Merah. Gangguan keamanan di kawasan Teluk secara menyeluruh. Penutupan akses logistik di Laut Oman untuk menghentikan suplai energi global.
Hingga saat ini, dunia internasional masih memantau dengan cermat apakah diplomasi yang dijembatani Pakistan akan membuahkan hasil, atau justru ultimatum Pete Hegseth yang akan menjadi pemicu pecahnya perang terbuka baru di kawasan tersebut.***
Editor : Dwi Puspitarini