KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Aksi demonstrasi yang digelar Aliansi Perjuangan Rakyat Kaltim di depan kompleks Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (21/4/2026), sempat diwarnai kericuhan. Namun, pihak aliansi membantah keterlibatan massa aksi dalam insiden tersebut.
Jenderal Lapangan Aliansi Perjuangan Rakyat Kaltim, Erly, menyatakan keributan terjadi setelah massa resmi membubarkan diri sekitar pukul 17.00 Wita. Ia menegaskan, aksi bertajuk “214” sejak awal dikonsep sebagai demonstrasi damai. "Pada prinsipnya aksi kami damai dan mulia. Massa kami sudah bubar jam 5 sore. Kalau setelah itu ada kericuhan, itu di luar tanggung jawab kami," kata Erly, Rabu (22/4/2026).
Erly juga menyinggung keberadaan sejumlah individu yang terlihat mengenakan helm dan penutup wajah saat kericuhan berlangsung. Menurut dia, kelompok tersebut bukan bagian dari aliansi. Dia menambahkan, sejak awal pihaknya telah mengantisipasi potensi gesekan dengan memberikan edukasi kepada peserta aksi agar tidak terpancing provokasi.
Baca Juga: Gubernur Kaltim Tak Muncul Temui Pengunjuk Rasa, Aksi 21 April di Samarinda Berujung Ricuh
Imbauan untuk tetap tertib dan menghormati hukum, kata dia, telah disampaikan kepada seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat yang bergabung. Menurut Erly, hingga batas waktu aksi yang disepakati, situasi di lapangan masih terkendali. Sejumlah fasilitas utama aksi, termasuk mobil komando, bahkan telah ditarik dari lokasi sebelum massa membubarkan diri.
"Mobil komando juga sudah bergeser sebelum jam 5 sore. Kami sudah mendorong teman-teman untuk meninggalkan lokasi secara tertib," ujarnya. Aksi tersebut berakhir tanpa pertemuan langsung dengan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud. Meski demikian, Erly menilai hal itu bukan persoalan utama bagi aliansi.
Dia menegaskan, sejak awal tuntutan massa memang diarahkan kepada DPRD Kalimantan Timur di Karang Paci, bukan kepada gubernur. "Goal kami memang ke DPRD, dan dari DPRD sudah menandatangani pakta integritas yang berisi tuntutan," katanya mengakhiri. (riz)
Editor : Muhammad Rizki