Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Rata-Rata Padi Kaltim 4 Ton per Hektare, Demplot Bukit Biru Tembus 6,2 Ton Jadi Bukti Intensifikasi

Raden Roro Mira Budi Asih • Kamis, 23 April 2026 | 14:56 WIB
PRODUKTIVITAS: Rata-rata produktivitas padi di Kaltim 4,1 ton per hektare, lewat pendekatan mekanisasi pertanian dan aplikasi benih mampu capai 6,2 ton per hektare.
PRODUKTIVITAS: Rata-rata produktivitas padi di Kaltim 4,1 ton per hektare, lewat pendekatan mekanisasi pertanian dan aplikasi benih mampu capai 6,2 ton per hektare.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Upaya meningkatkan produktivitas pertanian menjadi fokus utama pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan. Saat ini, rata-rata produktivitas padi di Bumi Etam masih tergolong rendah, yakni di kisaran 4 ton per hektare.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim Fahmi Himawan, berdasarkan data terbaru, produktivitas rata-rata padi di Kaltim berada di angka sekitar 4,1 ton per hektare. “Kalau di Kutai Kartanegara itu sekitar 4,2 ton per hektare, sementara rata-rata Kaltim sekitar 4,1 ton per hektare,” ujarnya.

Namun, hasil berbeda justru terlihat dari demplot yang dikembangkan di beberapa lokasi yang merupakan program Bank Indonesia Kaltim, salah satunya di Bukit Biru, Tenggarong. Dengan pendekatan mekanisasi dan penguatan kualitas benih, produktivitas mampu melonjak signifikan. “Di Bukit Biru itu bisa mencapai 6,2 ton per hektare. Itu sudah di atas rata-rata, luar biasa bagus,” jelas Fahmi saat Kick Off Peningkatan Produktivitas Pangan Sinergis (Padi dan Cabai) di Anggana, Kutai Kartanegara. 

Baca Juga: Kaltim Masih Defisit 200 Ribu Ton Beras, Ketergantungan Pasokan Luar Jadi Pemicu Inflasi

Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa peningkatan produksi bisa dilakukan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pembukaan lahan baru. Pendekatan intensifikasi dinilai lebih realistis, mengingat keterbatasan lahan di Kaltim. “Model seperti ini penting, karena kita tidak perlu mencetak sawah sebanyak-banyaknya, tapi bagaimana meningkatkan produktivitas dari lahan yang ada,” tegasnya.

Dia menambahkan, tantangan utama di Kaltim adalah keterbatasan lahan pertanian. Sekitar 60 persen wilayah merupakan kawasan hutan, sementara sebagian lainnya masuk dalam izin usaha seperti tambang dan HGU. “Tidak mudah mencari lahan. Makanya intensifikasi melalui mekanisasi dan peningkatan kualitas benih jadi kunci,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga mendorong peningkatan indeks pertanaman (IP), dari satu kali panen menjadi dua bahkan tiga kali dalam setahun. Dengan strategi tersebut, Fahmi optimistis peningkatan produksi bisa mengejar kebutuhan daerah secara bertahap. “Kalau produksi meningkat, kesejahteraan petani juga meningkat, dan ketergantungan dari luar bisa dikurangi,” tandasnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#Produktivitas Padi Kaltim #Pertanian Bukit Biru Tenggarong #Ketahanan pangan Kaltim