KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di tengah kekhawatiran yang muncul akibat kasus tersebut, sebagian orangtua mulai mengevaluasi kembali pilihan pengasuhan mereka. Salah satunya adalah Zarwiyah yang memilih menitipkan anaknya kepada keluarga dibandingkan daycare.
Ia mengaku keputusan tersebut diambil bukan karena faktor biaya, melainkan rasa aman dan kemudahan pemantauan terhadap anaknya yang masih berusia dua tahun.
“Bukan karena tidak mampu membayar daycare, tapi saya merasa lebih tenang jika anak diasuh keluarga. Apalagi kalau harus bekerja ke luar daerah, saya tidak perlu khawatir berlebihan," tuturnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa pengasuhan oleh keluarga memiliki tantangan tersendiri, seperti anak yang menjadi lebih manja. Namun, hal tersebut dinilai masih lebih bisa dikendalikan dibandingkan risiko yang mungkin terjadi di tempat penitipan yang tidak terpantau.
Baca Juga: Dampak Psikis Kasus Daycare Jogja, Orangtua Diminta Lebih Kritis Memilih Layanan
Dalam kesehariannya, Zarwiyah juga berupaya menjaga kualitas pengasuhan dengan menyiapkan makanan bergizi serta berbagai permainan edukatif untuk mendukung tumbuh kembang anaknya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kasus daycare di Jogjakarta tidak hanya berdampak pada korban secara langsung, tetapi juga memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap layanan penitipan anak secara umum.
Kekhawatiran orang tua meningkat, sementara kebutuhan terhadap daycare tetap tinggi seiring dengan tuntutan ekonomi keluarga modern. Zarwiyah menilai bahwa kondisi ini harus menjadi momentum bagi semua pihak untuk melakukan pembenahan, baik dari sisi regulasi, standar layanan, maupun edukasi masyarakat.
“Pengasuhan anak adalah tanggung jawab besar. Tidak bisa diserahkan begitu saja tanpa pengawasan. Orang tua tetap harus terlibat aktif, meskipun menggunakan jasa daycare,” pungkasnya.
Baca Juga: Daycare Matavhati Samarinda Selektif Rekrut Pengasuh, Semua Berlatar Kesehatan
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan ke depan layanan daycare tidak hanya berkembang secara kuantitas, tetapi juga kualitas.
Tanpa standar yang jelas dan pengawasan ketat, risiko terulangnya kasus serupa akan terus menjadi ancaman bagi anak-anak sebagai kelompok paling rentan dalam sistem pengasuhan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo