KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kasus dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta menjadi alarm keras bagi para orang tua, terutama keluarga muda pekerja yang mengandalkan layanan penitipan anak. Di Samarinda, peristiwa itu ikut memicu kecemasan, namun sekaligus membuat standar memilih daycare yang tak lagi sekadar fasilitas, tetapi keterbukaan total soal pengasuhan.
Kepala Sekolah Ceria Daycare Samarinda, Nadya Putri Windra, mengakui pertanyaan orangtua kini lebih kritis, detail dan tak segan memeriksa langsung sistem keamanan sebelum menitipkan anak. “Dari awal saya selalu terbuka. Mau telepon, chat atau datang survei langsung, silakan. Orangtua boleh masuk lihat semua ruangan, kenal pengasuh, lihat tempat tidur, ruang bermain, sampai sistem laporan harian,” beber Nadya.
Menurut dia, transparansi adalah fondasi utama membangun kepercayaan. Ceria Daycare, kata dia tidak menutup akses orangtua untuk melihat kondisi riil di dalam daycare, termasuk aktivitas anak dari pagi hingga sore.
Setiap hari, orangtua menerima dokumentasi lengkap berupa foto dan video sejak anak datang, bermain, makan, tidur, mandi, hingga laporan detail seperti konsumsi ASIP, buang air, minum obat, sampai kondisi tantrum atau insiden kecil lain.
“Kalau ada anak tantrum atau menggigit, kami langsung video call orang tuanya. Jadi mereka tahu kondisi real anaknya saat itu, bukan menunggu cerita pulang,” katanya.
Langkah itu, lanjut Nadya, menjadi respons langsung setelah kasus di Yogyakarta viral. Ia bahkan membuat pernyataan resmi di grup wali murid untuk memastikan orang tua tetap tenang dan mengetahui posisi daycare terhadap isu kekerasan anak. “Keselamatan anak nomor satu. Jadi kami sampaikan tegas bahwa kami menolak segala bentuk kekerasan,” tegasnya.
Tak hanya soal keamanan, Ceria Daycare juga menekankan fungsi stimulasi tumbuh kembang. Nadya yang juga berlatar belakang ahli gizi mengaku memantau langsung perkembangan setiap anak, mulai motorik halus, kasar, kemampuan bicara, hingga kondisi emosional.
Jika ditemukan indikasi keterlambatan bicara atau kebutuhan stimulasi khusus, pihak daycare akan berdiskusi langsung dengan orang tua dan menyarankan konsultasi ke dokter tumbuh kembang. “Daycare bukan sekadar tempat menitip. Kami juga melihat perkembangan anak. Kalau ada yang butuh perhatian khusus, orang tua harus tahu lebih awal,” ujarnya.
Evaluasi perkembangan anak dilakukan rutin setiap pekan bersama seluruh pengasuh. Pengasuh juga disebut melalui proses seleksi ketat dengan penekanan pada kesabaran, kontrol emosi, dan pola asuh penuh kasih. Dari sisi kesehatan, Ceria Daycare bekerja sama dengan Puskesmas Temindung, Samarinda untuk pemeriksaan berkala setiap enam bulan, termasuk pemantauan tumbuh kembang, vitamin A, dan obat cacing.
Sementara untuk rasio pengasuh, Nadya menerapkan pola berbeda berdasarkan usia: bayi dua bulan 1:2, usia satu hingga dua tahun 1:3, dan usia tiga hingga lima tahun 1:5. Saat ini di Ceria Daycare menyediakan 4 orang bunda pendamping dan ada sekitar 15 anak usia bayi dan balita yang diasuh setiap harinya.
“Anak demam 37,5 derajat saja kami pantau ketat dan konfirmasi ke orangtua. Kalau 38 derajat wajib dijemput. Semua tindakan, termasuk obat, harus dengan persetujuan orang tua,” katanya.
Menurut Nadya, hal paling penting justru bukan program unggulan semata, melainkan bagaimana anak diasuh layaknya oleh seorang ibu. Meski begitu, Ceria Daycare juga menyediakan aktivitas salat, mengaji, hafalan surat pendek, eksperimen sains, hingga ruang bermain luas ber-AC.
Ia juga mengingatkan orang tua agar lebih selektif sebelum memilih daycare, terutama pasca kasus kekerasan yang mencuat. “Pastikan bisa survei langsung, kenal owner-nya, lihat pengasuh, tanya laporan harian, cek CCTV, pagar, dan cara mereka menjawab pertanyaan. Kalau dari awal tertutup, orangtua harus waspada,” pesannya.
Baca Juga: Dampak Psikis Kasus Daycare Jogja, Orangtua Diminta Lebih Kritis Memilih Layanan
Di tengah meningkatnya kebutuhan daycare di Samarinda, kasus di Yogyakarta memberi pelajaran penting bahwa ketenangan orang tua tak bisa dibeli hanya lewat fasilitas bagus. Kepercayaan dibangun dari transparansi, komunikasi aktif, dan keberpihakan mutlak pada keselamatan anak.
Bagi keluarga pekerja, daycare ideal bukan sekadar tempat menitipkan buah hati, tetapi mitra pengasuhan yang membuat orang tua tetap tenang saat mencari nafkah. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo