KALTIMPOST.ID-Tak hanya pasar mobil bekas, dampak kenaikan Dexlite juga mulai terasa di dunia perbengkelan. Pemilik bengkel Auto Fit Balikpapan, Tony Tjan, mengatakan banyak pengguna kendaraan diesel kini mulai mencari cara agar tetap bisa menekan pengeluaran bahan bakar.
“Beberapa pelanggan sekarang bahkan sampai membeli mobil bensin untuk kendaraan harian mereka,” ujarnya.
Menurut Tony, sebagian pengguna kendaraan diesel mulai beralih menggunakan biosolar. Namun, langkah tersebut berisiko menimbulkan gangguan pada kendaraan modern, terutama mobil diesel dengan standar emisi Euro 4.
“Kalau mobil common rail yang sudah Euro 4 memakai biosolar, banyak muncul masalah di sistem common rail-nya. Biasanya terjadi pada injektor dan suplai pump,” katanya.
Ia menjelaskan, biosolar mengandung residu dari campuran bahan nabati yang dapat meninggalkan endapan pada saluran bahan bakar.
Baca Juga: Karateka Muda Balikpapan Muhammad Arif Saprudin Raih Emas di Kejurnas Forki 2026 Bandung
Dalam jangka panjang, residu itu dapat menyebabkan kerak hingga penyumbatan. “Waktu dibongkar biasanya banyak kotoran seperti jelly atau getah. Itu yang bikin jalur bahan bakar tersumbat,” ungkapnya.
Tony mengatakan kendaraan Euro 4 memang dirancang menggunakan bahan bakar dengan kualitas lebih bersih dan kadar sulfur rendah, seperti dexlite atau pertamina dex. “Kalau spek mesin Euro 4 memang dianjurkan memakai bahan bakar yang lebih murni,” jelasnya.
Meski demikian, tingginya harga BBM membuat banyak pengguna tetap mencari jalan tengah. Salah satu cara yang paling sering dilakukan ialah memasang filter tambahan atau racor untuk membantu penyaringan bahan bakar.
“Biasanya dipasang double filter supaya ada penyaringan tambahan. Paling tidak bisa memperpanjang usia mesin,” katanya.
Selain itu, pemilik kendaraan diesel juga disarankan lebih rutin menguras tangki dan mengganti filter bahan bakar apabila tetap menggunakan biosolar.
“Kalau indikator sudah hampir habis baru diisi, endapan di dasar tangki ikut terhisap. Itu yang membuat sistem cepat kotor,” ujarnya.
Baca Juga: Ketua Komisi II DPRD Mahulu Dukung Pelestarian Adat Uman Untat di Kampung Rukun Damai
Senada dengan itu, pemilik Bengkel Mobil Sidomulyo Balikpapan, Alvin menuturkan tren peralihan ke biosolar memang mulai terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Namun, menurut dia, kendaraan diesel keluaran terbaru jauh lebih sensitif terhadap kualitas bahan bakar.
“Kalau pakai biosolar sebenarnya masih bisa, terutama kendaraan tahun 2020 ke bawah. Tapi harus ditambah double filter untuk menjaga injektor,” katanya.
Ia menyebut kendaraan diesel modern, terutama keluaran 2021 ke atas, lebih rentan mengalami kerusakan apabila terlalu lama menggunakan biosolar.
“Dampaknya memang tidak langsung, tapi biasanya tiga sampai empat bulan mulai muncul masalah di injektor atau common rail,” ujarnya.
Karena itu, Alvin menyarankan pengguna kendaraan diesel untuk memperpendek interval penggantian filter solar apabila memilih memakai biosolar.
“Kalau biasanya filter solar diganti enam bulan atau setahun, sekarang kalau pakai biosolar lebih baik dua sampai tiga bulan dicek. Kalau sudah hitam langsung ganti,” katanya.
Menurut Alvin, biaya penggantian filter jauh lebih murah dibanding harus memperbaiki komponen sistem bahan bakar yang rusak. “Kalau injektor rusak biayanya besar. Satu injektor saja bisa lebih dari Rp 1 juta untuk kalibrasi,” sebutnya.
Ia mengungkapkan sebagian pelanggan dari sektor industri sejauh ini masih bertahan menggunakan dexlite atau solar berkualitas lebih baik. Namun, mereka mulai mengurangi konsumsi harian untuk menekan biaya operasional.
“Mereka tetap pakai bahan bakar bagus, cuma jatahnya dikurangi. Karena kalau sampai rusak, biaya perbaikannya jauh lebih mahal,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.