KALTIMPOST.ID-Kenaikan harga dexlite hingga hampir dua kali lipat dinilai bukan persoalan utama yang paling mengkhawatirkan di Kaltim.
Pengamat justru menilai dampak terbesar muncul akibat gelombang perpindahan pengguna dexlite ke biosolar yang memicu antrean panjang dan memperlihatkan rapuhnya sistem distribusi BBM di daerah penghasil energi tersebut.
Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul), Aji Sofyan Effendi mengatakan fenomena yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi logis dari hukum ekonomi.
Ketika masyarakat dihadapkan pada dua pilihan bahan bakar dengan selisih harga sangat jauh, maka mayoritas akan memilih opsi yang paling murah meski ada risiko terhadap kendaraan mereka.
“Orang akhirnya tidak peduli lagi soal dampak jangka panjang terhadap mesin. Yang penting aktivitas ekonominya tetap jalan,” ujarnya.
Baca Juga: Karateka Muda Balikpapan Muhammad Arif Saprudin Raih Emas di Kejurnas Forki 2026 Bandung
Menurut Aji, lonjakan harga dexlite yang mencapai hampir 100 persen membuat pengguna kendaraan diesel berpindah ke biosolar demi menekan pengeluaran harian.
Terlebih kondisi ekonomi masyarakat saat ini dinilai belum cukup kuat untuk menyerap kenaikan biaya operasional.
“Kalau penghasilan tetap, sementara harga BBM naik drastis, orang pasti mencari alternatif yang lebih murah,” katanya.
Namun perpindahan tersebut memicu efek domino baru berupa antrean panjang di sejumlah SPBU.
Aji menilai kondisi itu tidak hanya terjadi di Balikpapan, tetapi juga berpotensi meluas ke daerah lain di Kaltim. “Begitu stok solar cepat habis, akhirnya masyarakat harus antre dua sampai tiga hari,” ujarnya.
Menurut dia, persoalan antrean BBM di Balikpapan menjadi ironi tersendiri mengingat kota ini merupakan lokasi kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) yang menjadi salah satu pusat distribusi BBM nasional.
“Itu yang ironis. RDMP besar ada di Balikpapan, tapi masyarakatnya masih antre solar sampai berhari-hari,” katanya.
Baca Juga: Ketua Komisi II DPRD Mahulu Dukung Pelestarian Adat Uman Untat di Kampung Rukun Damai
Aji mempertanyakan efektivitas keberadaan RDMP apabila daerah penghasil sekaligus lokasi kilang justru masih mengalami persoalan distribusi BBM.
“Jangan sampai daerah lain lancar suplai dari Balikpapan, tapi Balikpapan sendiri malah kekurangan,” tegasnya.
Ia menilai kondisi tersebut memperlihatkan ketahanan energi nasional masih sangat rentan terhadap gejolak global. Sedikit saja terjadi eskalasi internasional, dampaknya langsung terasa hingga ke daerah.
“Kenaikan dexlite ini menunjukkan resistensi ketahanan energi kita sebenarnya belum kuat,” ujarnya.
Meski demikian, Aji menilai dampak kenaikan dexlite terhadap inflasi daerah kemungkinan tidak terlalu besar.
Menurutnya, banyak pelaku usaha akan memilih beralih ke biosolar agar biaya produksi tetap terkendali.
Namun persoalan antrean solar tetap menjadi ancaman tersendiri terhadap aktivitas ekonomi masyarakat kecil dan UMKM.
“Kalau harus antre lama, kuantitas produksi mereka bisa turun karena waktu habis di SPBU,” kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul itu.
Ia menambahkan, kendaraan bisnis skala kecil lebih rentan terdampak dibanding perusahaan besar yang umumnya telah memiliki mekanisme pasokan BBM tersendiri.
“Kalau perusahaan besar biasanya punya jalur distribusi sendiri. Yang paling terasa justru pelaku usaha kecil dan rumah tangga,” ujarnya. (rd)
Editor : Romdani.