Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

LAPORAN KHUSUS: Perempuan Adat Balik di Sepaku PPU Bertahan di Tengah Menyusutnya Ladang Padi Imbas Pembangunan IKN

Nasya Rahaya • Minggu, 24 Mei 2026 | 07:05 WIB
Syamsiah yang berladang padi di Sepaku. (FOTO NASYA RAHAYA/KP)
Syamsiah yang berladang padi di Sepaku. (FOTO NASYA RAHAYA/KP)

KALTIMPOST.ID-Bulir keringat mengalir dari pelipis Syamsiah saat matahari mulai meninggi di Kampung Sepaku Lama, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU). Pagi belum sepenuhnya siang, namun panas terasa membakar ladang padi miliknya. Di tengah hamparan padi yang mulai menguning, perempuan paruh baya itu tetap bergerak cepat.

Tangannya terampil memotong tangkai demi tangkai padi menggunakan ani-ani atau rangkapan dalam bahasa suku Balik.

Alat sederhana sebesar setengah telapak tangan itu sudah lama menjadi bagian dari hidupnya. Satu per satu hasil potongan dimasukkan ke dalam lanjong yang tersampir di pundaknya, seolah berpacu dengan terik yang semakin menyengat.

Padi yang ditanam lima bulan lalu itu memang memasuki masa panen. Namun panen kali ini tak membawa banyak kegembiraan. Syamsiah mengaku hasil yang didapat jauh dari harapan.

“Untuk satu hektare ini pakai 2,5 kaleng bibit padi. Karena lahannya tidak dibakar, banyak rumput, ditambah hama burung pipit dan tikus. Panennya cuma 20 kaleng. Harusnya bisa sampai 50 kaleng,” ujarnya pelan.

Baca Juga: Kaltim Post Gelar Journalism Boot Camp 2026, Bekali Peserta Skill Jurnalistik dan Media Digital

Bagi Syamsiah, ladang itu bukan sekadar tempat menanam padi. Tanah seluas lebih dari satu hektare tersebut merupakan warisan keluarga yang telah digarap turun-temurun oleh masyarakat adat suku Balik di Sepaku.

Di atas lahan itu tumbuh padi gunung, sayur-mayur, buah-buahan, hingga tanaman obat. Ayam dan bebek berkeliaran bebas di sela kebun. Semuanya membentuk ruang hidup yang saling terhubung.

Namun kini, lanskap itu perlahan berubah. Lahan yang digarap Syamsiah disebut masuk dalam kawasan delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN).

Di tengah geliat pembangunan kota baru, masyarakat adat seperti dirinya berada di persimpangan antara menjaga tradisi bertani dan menghadapi perubahan besar yang datang ke tanah mereka sendiri.

KEHILANGAN SUMBER PENGHIDUPAN

Pengetahuan berladang itu diwariskan turun temurun dari nenek moyang. Sebelum menanam, mereka merintis lahan terlebih dahulu, membiarkannya dua pekan hingga rerumputan mengering dan menguning, selanjutnya lahan dibakar.

Membakar ini tak sembarang, mereka punya teknik agar api tak merambat lebih dari lahan yang akan ditanam.

“Kami lho paham. Biar kebun tetangga sebelahan gini, enggak bakalan kebakar. Karena ada caranya. Enggak sembarangan. Yang kasih rusak hutan itu bukan kami masyarakat ini. Kami ini ya secukupnya yang mau dipakai saja,” ucapnya, diselingi tawa kecil yang menyimpan lelah bertahun-tahun.

Baca Juga: Angka Stunting Berau Masih Tinggi, PKK Diminta Aktif Tingkatkan Kunjungan Posyandu

Api itu bukan perusak. Bagi suku Balik, api adalah bagian dari ritual bercocok tanam, pemurnian tanah, dan persiapan kehidupan baru. Dengan membakar, lahan menjadi lebih gembur dan produktif.

DUA RATUS KALENG

Untuk memahami betapa dalamnya kehilangan yang dirasakan Syamsiah, perlu kembali ke masa sebelum semua ini berubah.

“Orangtua kami dulu, kalau menanam padi berhektare-hektare, harus sampai 10-15 kaleng sekali tanam. Hasil tanam bisa digunakan sampai dua tahun. Mana pernah beli beras,” ungkapnya.

Dulu, dari bermodal dua kaleng bibit padi, bisa menghasilkan 200 kaleng padi. Dengan perkiraan satu kaleng bisa berisi 6-7 kilogram padi, yang berarti bisa menghasilkan 1,2 ton dalam sekali panen.

Sekarang, karena membakar lahan dilarang, dua setengah kaleng itu hanya bisa menghasilkan sekitar 50 kaleng. Dan panen kali ini, bahkan hanya 20 kaleng yang bisa dipungut. Sekitar 120 kilogram. Jauh dari target.

Artinya, di dapur Syamsiah harus berhitung lebih keras. Jika panen berhasil, dia tak perlu membeli beras selama setahun penuh. Kini, enam bulan saja sudah menjadi kemewahan.

Belum lagi, kondisi lingkungan yang makin berubah signifikan membuat Syamsiah makin kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Baca Juga: Angka Stunting Berau Masih Tinggi, PKK Diminta Aktif Tingkatkan Kunjungan Posyandu

Jauh sebelum pemerintah mengelu-elukan konsep pangan mandiri, Syamsiah dan komunitasnya sudah lebih dulu mengimani.

Tak ada istilah krisis pangan, makanan dan obat-obatan bisa mereka akses dengan mudah dari hutan.

Mirisnya kini, ketika Syamsiah ingin makan olahan umbut rotan, dia harus membelinya. “Orangtua kami ‘kan berkebun mulai kami kecil itu dikasih hidup dalam kebun. Dulu, mana ada kami beli-beli sayuran, langsung dari kebun. Umbut rotan, dulu masih ada di pinggir-pinggiran hutan atau sungai, kalau sekarang enggak ada,” ucapnya.

Bukan hanya pangan yang berubah. Obat-obatan pun dulu tersedia dari hutan. Akar bajakah, misalnya, pernah menjadi salah satu andalan pengobatan tradisional untuk berbagai keluhan. Saat ini susah dicari, karena tak bisa juga ditanam, karena merupakan tanaman liar.

Di balik semua itu, perempuan adat sepertinya juga memikul beban kerja yang panjang. Dari rumah ke dapur, dari dapur ke kebun, dari mencuci ke merumput, banyak pekerjaan harian jatuh ke tangan mereka.

“Mengurusi rumah, masak, mencuci, dan berkebun. Merumput, semua kami yang kerjakan,” kata Syamsiah. Belakangan, generasi muda makin jauh dari cara hidup lama. Mereka tumbuh pada zaman yang berbeda, dan tidak semuanya lagi memahami kebiasaan berkebun.

Walau terhimpit kondisi yang kian pelik, Syamsiah memilih bertahan. Tidak ada lagi lahan yang bisa dituju, tidak ada lagi tanah yang bisa dijadikan sandaran. Yang ada hanyalah sebidang tanah warisan yang kini perlahan-lahan terkepung oleh pembangunan IKN. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #Ladang Permainan #ibu kota nusantara #Gubernur Kaltim Rudi Masud #Kutai Barat