Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

LAPORAN KHUSUS: PLTA Batoq Kelo 300 MW di Mahulu Berpotensi Dongkrak Bauran EBT Kaltim dari 12 Persen Menjadi 36 Persen

Muhammad Ridhuan • Minggu, 31 Mei 2026 | 10:09 WIB
Happy Aprillia
Happy Aprillia

KALTIMPOST.ID-Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo berkapasitas 300 Megawatt (MW) di Mahakam Ulu (Mahulu) dinilai berpotensi mengubah peta energi Kaltim.

Di tengah dominasi pembangkit berbahan bakar fosil, kehadiran pembangkit energi terbarukan berskala besar tersebut diperkirakan mampu meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) secara signifikan dalam sistem kelistrikan daerah. 

Dosen Program Studi Magister Manajemen Teknologi sekaligus Kepala UPA Laboratorium Terpadu Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Happy Aprillia mengatakan porsi EBT Kaltim saat ini masih berada pada kisaran 12 hingga 14 persen.

“Untuk existing saat ini, porsi EBT di Kaltim sekitar 12 sampai 14 persen. Dominasinya berasal dari bioenergi, biomassa, PLTS dan minihidro,” ujarnya.

Menurutnya, angka tersebut masih jauh dari target pemerintah untuk meningkatkan bauran energi terbarukan dalam sistem ketenagalistrikan nasional. Karena itu, tambahan kapasitas dari PLTA Batoq Kelo menjadi penting.

“Kalau PLTA 300 MW ini nantinya masuk sistem, secara perhitungan bauran energi terbarukan bisa meningkat cukup signifikan, dari sekitar 12 persen menjadi mendekati 36 persen,” katanya.

Meski demikian, ia menilai persoalan utama sistem kelistrikan Kaltim ke depan bukan lagi sekadar menambah pasokan energi.

Baca Juga: Kasus Orang Hilang di Berau Meningkat, Disdamkarmat Imbau Warga Utamakan Keselamatan

Sebab saat ini Sistem Mahakam yang telah terhubung dengan Sistem Barito masih memiliki cadangan daya yang relatif besar.

“Kalau melihat kondisi sekarang, sebenarnya sistem kita sudah surplus. Beban puncaknya sekitar 790 MW dan masih memiliki cadangan daya. Ditambah lagi nanti ada tambahan 300 MW dari PLTA,” jelasnya.

Karena itu, menurut Happy, pembangunan pembangkit harus diikuti dengan pertumbuhan konsumsi listrik, terutama dari sektor industri dan kawasan ekonomi baru.

Tanpa peningkatan permintaan, tambahan kapasitas pembangkit berpotensi tidak termanfaatkan secara optimal.

“Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana energi yang tersedia itu bisa terserap. Karena kalau pembangkit bertambah tetapi konsumennya tidak tumbuh, tentu tidak akan optimal,” ujarnya.

Dari sisi potensi sumber energi, Happy menilai Kaltim memiliki beberapa pilihan EBT yang menjanjikan.

Energi surya menjadi salah satu yang paling potensial karena intensitas sinar matahari relatif merata di seluruh wilayah.

“Kalau melihat potensi, energi surya masih menjadi yang paling besar. Selain itu ada biomassa dan minihidro yang juga cukup menjanjikan,” katanya.

Baca Juga: Balikpapan Jadi Tuan Rumah IEE Series 2026, Bakal Hadirkan Pameran Internasional Tambang, Migas, dan Konstruksi di BSCC Dome

Namun seluruh sumber energi terbarukan memiliki tantangan yang sama, yakni sifat intermiten atau produksi energi yang tidak selalu stabil karena dipengaruhi faktor alam. Pada PLTS misalnya, produksi listrik dapat menurun ketika cuaca mendung atau hujan.

“Intermitensi memang menjadi karakter energi terbarukan. Kualitas dan jumlah energi yang dihasilkan sangat dipengaruhi faktor eksternal,” jelasnya.

Pada biomassa, tantangan muncul dari kualitas bahan baku yang dapat berubah tergantung musim.

Sementara pada PLTA, potensi intermitensi dipengaruhi ketersediaan air, terutama ketika terjadi musim kemarau panjang.

Karena itu, menurut Happy, studi kelayakan menjadi faktor penting dalam pembangunan pembangkit energi terbarukan.

Untuk PLTA misalnya, perencanaan harus mampu memperhitungkan kondisi debit air pada musim hujan maupun kemarau agar pasokan listrik tetap terjaga.

Meski memiliki tantangan, ia menilai PLTA merupakan salah satu jenis EBT yang paling memungkinkan menjadi tulang punggung sistem kelistrikan di masa depan.

“Kalau PLTA skala besar seperti ini, sebenarnya bisa difungsikan sebagai backbone sistem kelistrikan. Berbeda dengan PLTS atau pembangkit energi terbarukan lain yang tingkat intermitensinya lebih tinggi,” katanya.

Baca Juga: Letkol Inf Muhammad Faisal Idris Resmi Jabat Dandim 0902/Berau Gantikan Kolonel Wirahady

Di sisi lain, Happy mengingatkan bahwa energi terbarukan tidak sepenuhnya bebas dampak lingkungan. Pembangunan PLTS memerlukan lahan yang luas, sementara PLTA memerlukan bendungan dan kawasan genangan yang dapat mengubah bentang alam.

“Semua sumber energi pasti memiliki konsekuensi lingkungan. Yang penting adalah bagaimana pengawasan dilakukan dengan baik, mulai dari studi kelayakan, pelaksanaan proyek, hingga pemenuhan tanggung jawab sosial kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, manfaat EBT tidak hanya berasal dari energi yang dihasilkan. Jika dikelola dengan baik, proyek-proyek energi terbarukan juga dapat membuka lapangan kerja baru, menggerakkan ekonomi lokal, hingga menciptakan kawasan wisata berbasis lingkungan seperti yang telah berkembang di sejumlah waduk dan bendungan besar di Indonesia.

“Karena itu yang perlu dilihat bukan hanya dampaknya saat dibangun, tetapi juga manfaat jangka panjang yang bisa dihasilkan bagi masyarakat dan daerah,” pungkasnya. (rd)

Editor : Romdani.
#ibu kota nusantara #energi baru dan terbarukan (EBT) #PLN Group Kaltimra #Mahakam Ulu #Kutai Barat