Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

AS-Iran Jajaki Perjanjian Damai, Teheran Berjuang Pertahankan Pengaruh di Lebanon

Ari Arief • Jumat, 12 Juni 2026 | 14:46 WIB
LEBANON: Salah satu sudut kota Lebanon usai dibom Israel.(rtr)
LEBANON: Salah satu sudut kota Lebanon usai dibom Israel.(rtr)

 

KALTIMPOST.ID,BEIRUT–Di tengah bergulirnya negosiasi perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, Teheran dilaporkan tengah berupaya keras untuk mempertahankan pengaruh strategisnya di Lebanon, khususnya terkait masa depan kelompok militan Hizbullah.

Menurut beberapa sumber diplomatik dan pejabat regional yang dekat dengan jalannya perundingan, Iran bersikeras agar kesepakatan besar dengan Washington tidak mengorbankan jaringan regional mereka, yang selama ini dikenal sebagai "Poros Perlawanan".

Baca Juga: Trump Klaim Perjanjian Akhiri Perang dengan Iran Segera Disepakati, Serangan Militer Dibatalkan

"Teheran mengirimkan sinyal jelas ke Beirut bahwa posisi Hizbullah dalam lanskap politik dan militer Lebanon adalah garis merah yang tidak bisa dinegosiasikan," ujar seorang diplomat senior Arab yang enggan disebutkan namanya.

Langkah ini diambil menyusul draf perjanjian damai AS-Iran yang diinisiasi oleh mediator Qatar dan Pakistan. Dalam draf tersebut, Washington dan sekutu regionalnya, termasuk Israel, mendesak pembatasan pasokan senjata lintas batas dan penegakan resolusi internasional terkait demiliterisasi di wilayah Lebanon selatan.

Baca Juga: Polres PPU Gelar Turnamen Minisoccer, Meriahkan HUT Bhayangkara ke-80

Sebaliknya, kubu oposisi di parlemen Lebanon dan sejumlah pengamat politik di Beirut menilai bahwa momentum negosiasi ini seharusnya dimanfaatkan untuk memulihkan kedaulatan penuh negara Lebanon tanpa intervensi asing. Mereka mendesak agar seluruh keputusan militer berada di bawah kendali resmi tentara nasional Lebanon.

Sementara itu, menanggapi kekhawatiran dari para sekutunya di Beirut, perwakilan pemerintah Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan yang dicapai dengan AS justru akan memperkuat stabilitas regional, bukan melemahkan mitra-mitra lokal mereka.

Baca Juga: Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres PPU Hijaukan Pesisir Pantai Nipah-Nipah dengan 1.000 Mangrove

Di Washington, juru bicara Departemen Luar Negeri AS menolak memberikan rincian spesifik mengenai klausul Lebanon dalam draf perjanjian. Namun, ia kembali menegaskan bahwa AS tetap berkomitmen pada stabilitas Lebanon dan pengurangan ancaman militer di sepanjang perbatasan utara Israel.

Negosiasi tingkat tinggi antara AS dan Iran ini dipandang sebagai pertaruhan besar (high-stakes) yang tidak hanya akan menentukan akhir dari konflik langsung kedua negara, tetapi juga akan mengubah lanskap geopolitik dan peta kekuatan di Timur Tengah secara signifikan.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#hizbullah #as #iran #lebanon