KALTIMPOST.ID, WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan proses menuju perdamaian antara Washington dan Teheran telah memasuki tahap akhir. Ia bahkan mengklaim penandatanganan kesepakatan dapat dilakukan pada Minggu (14/6), sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Melalui unggahan di media sosialnya pada Sabtu (13/6) waktu setempat, Trump mengatakan kesepakatan damai tinggal menunggu pengesahan. Menurutnya, setelah dokumen resmi ditandatangani, aktivitas pelayaran internasional di Selat Hormuz akan kembali berjalan normal.
Pernyataan Trump muncul di tengah optimisme para mediator yang selama beberapa pekan terakhir mempertemukan kedua negara. Pakistan, yang berperan sebagai salah satu mediator utama, juga menyebut peluang tercapainya perjanjian damai kini semakin besar.
Baca Juga: Usai Lonjakan Maret, Jumlah Penumpang Pesawat di Kaltim Anjlok 35 Persen Pasca-High Season!
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengungkapkan penyelesaian dokumen akhir diperkirakan rampung dalam waktu 24 jam. Ia menambahkan, penandatanganan kemungkinan dilakukan secara elektronik, sebelum pembahasan teknis dilanjutkan pada pekan depan.
Kementerian Luar Negeri Pakistan turut mengonfirmasi bahwa agenda penandatanganan memang ditargetkan berlangsung pada Minggu.
Sementara itu, Qatar terus melanjutkan upaya diplomasi. Delegasi negara tersebut telah tiba di Teheran untuk membahas perkembangan terbaru bersama pemerintah Iran. Media Iran melaporkan kunjungan tersebut bertujuan mempercepat proses negosiasi yang masih berlangsung.
Meski demikian, Iran belum sepenuhnya sejalan dengan pernyataan Trump. Kantor berita Fars yang mengutip sumber dekat tim perunding menyebut pemerintah Iran belum menetapkan keputusan final terkait kesepakatan tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, juga menegaskan bahwa jadwal resmi penandatanganan belum diputuskan. Ia bahkan membantah bahwa proses tersebut akan berlangsung pada Minggu seperti yang diklaim Presiden AS.
Perbedaan pernyataan dari kedua pihak menunjukkan proses diplomasi masih berlangsung dinamis, meski peluang tercapainya kesepakatan damai disebut semakin terbuka.
"Masih ada kemungkinan kesepakatan dicapai dalam beberapa hari ke depan," ujarnya.
Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 8 April lalu, Presiden AS Donald Trump berkali-kali menyampaikan optimisme bahwa penyelesaian konflik tinggal menunggu waktu. Namun hingga kini, proses negosiasi masih berlangsung alot dan belum menghasilkan kesepakatan resmi.
Baca Juga: Jokowi Akan Masuk PSI Tinggalkan PDIP, Bestari Barus Ungkap Jabatan yang Disiapkan
Perbedaan pandangan juga terlihat dari berbagai pernyataan yang dikeluarkan masing-masing pihak. Washington dan Teheran beberapa kali menyampaikan informasi yang saling bertolak belakang mengenai isi maupun progres pembahasan draf perjanjian.
Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi diplomasi. Masing-masing berusaha membangun persepsi publik bahwa mereka berada pada posisi yang lebih kuat dalam proses perundingan, sekaligus mempertahankan daya tawar menjelang keputusan akhir.
Dengan masih adanya perbedaan sikap tersebut, nasib kesepakatan damai AS-Iran belum sepenuhnya pasti. Meski begitu, sinyal positif dari para mediator membuat peluang tercapainya perjanjian tetap terbuka dalam waktu dekat.
Editor : Uways Alqadrie