KALTIMPOST.ID, TEHERAN – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Militer AS melancarkan gelombang serangan baru ke wilayah selatan Iran pada Kamis (9/7) dini hari, menandai hari kedua berturut-turut operasi militer Washington terhadap Republik Islam tersebut.
Serangan lanjutan itu berlangsung tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran pada dasarnya telah berakhir.
Pernyataan tersebut mempertegas memburuknya hubungan kedua negara setelah aksi saling serang dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Trump Resmi Akhiri Gencatan Senjata dengan Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak 5 Persen
Pemerintah Amerika Serikat menyebut operasi militer dilakukan sebagai respons atas dugaan serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Washington menilai Iran bertanggung jawab atas ancaman terhadap jalur pelayaran internasional yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia.
Melalui pernyataan resminya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan tambahan ditujukan untuk mengurangi kemampuan militer Iran dalam mengancam kebebasan navigasi di kawasan tersebut.
AS juga menegaskan akan meminta pertanggungjawaban Iran atas berbagai aksi yang dinilai membahayakan pelayaran internasional.
Di sisi lain, media-media Iran melaporkan rentetan ledakan terdengar di sejumlah wilayah pesisir selatan negara itu. Beberapa kota yang disebut terdampak antara lain Bushehr, Chabahar, Konarak, hingga Pulau Lavan.
Laporan juga menyebut sedikitnya dua ledakan terjadi di sekitar kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr. Hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai tingkat kerusakan maupun jumlah korban akibat serangan tersebut.
Baca Juga: Fantastis! Polisi Sita Emas 74 Kg, Dolar AS-Singapura dan Uang Tunai, Total Rp476 Miliar
Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah pun semakin memanas. Eskalasi konflik memicu kekhawatiran dunia terhadap stabilitas kawasan, termasuk potensi gangguan distribusi minyak global yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi internasional.
Editor : Uways Alqadrie