KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Bagi sebagian anak, mengikuti lomba identik dengan keinginan menjadi juara. Namun bagi Daevin Halbert Lius, pelajar 12 tahun asal Samarinda, alasan itu justru bukan yang utama. Setiap kali menemukan kompetisi baru, pertanyaan pertama yang muncul di benaknya bukan bagaimana cara menang, melainkan seperti apa bentuk perlombaannya.
Rasa penasaran itulah yang membuat Daevin terus mencoba berbagai bidang, mulai dari matematika, bahasa inggris, sains, jurnalistik, debat bahasa inggris, hingga bahasa mandarin bahkan lomba piano. Dan dia bisa dipastikan meraih juara dalam berbagai bidang tersebut.
“Kalau dapat (menang) ya bagus, tapi kalau enggak ya paling minimal saya tahu lomba ini seperti apa, soalnya seperti apa, rasanya bagaimana,” ujar anak sulung pasangan Welly Lius dan Melinda Tandrin itu. Keinginan mencoba hal-hal baru itu bahkan sering membuat kedua orang tuanya kewalahan. Melinda mengaku justru putranya yang aktif mencari informasi berbagai kompetisi, kemudian meminta didaftarkan.
Rasa ingin tahu Daevin jauh lebih besar dibanding keinginannya menjadi juara. Setelah memahami pola sebuah kompetisi, barulah putra sulungnya itu mulai mempersiapkan diri lebih serius pada kesempatan berikutnya.
Hal itu terlihat saat Daevin pertama kali mengikuti Hippo English Language Olympiad pada 2025. Saat itu dia gagal melanjutkan ke babak berikutnya. Alih-alih kecewa, Daevin justru menjadikan pengalaman tersebut sebagai bekal menghadapi kompetisi tahun berikutnya.
Prinsip yang sama juga diterapkannya pada berbagai kompetisi lain. Salah satunya World Scholar’s Cup kategori debat bahasa inggris. Saat pertama kali mengikuti ajang tersebut, Daevin mengaku belum memiliki dasar kemampuan berdebat.
Namun rasa penasaran membuatnya tetap mendaftar. Hanya dalam waktu dua bulan mempersiapkan diri bersama mentor, tim Daevin justru berhasil menembus lima besar pada babak regional dan berhak melaju ke tingkat selanjutnya di Bangkok pada Agustus nanti. Capaian itu bahkan di luar perkiraan keluarga maupun mentornya. “Kami waktu itu targetnya 20 besar saja karena memang baru pertama kali ikut debat,” ujar Melinda.
Keputusan untuk tidak memaksa memilih satu bidang menjadi salah satu kunci perkembangan Daevin. “Kami mengikuti saja maunya dia. Dia mau ke mana, kami dukung. Kami enggak pernah memaksa harus di bidang tertentu,” sambung sang ayah, Welly.
Menurutnya, setiap kompetisi bukan semata tentang medali, tetapi kesempatan bagi anak untuk mengenal dirinya sendiri. Sementara bagi Daevin, setiap perlombaan selalu menghadirkan pengalaman baru yang tak bisa didapatkan di ruang kelas.
Rasa penasaran yang sederhana itu perlahan mengantarkan langkah Daevin ke panggung-panggung internasional. Bukan karena sejak awal mengejar kemenangan, tetapi karena dia selalu berani membuka pintu pada tantangan yang belum pernah dicoba sebelumnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki